Book Review 9

Posted: April 17, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By: Dwi Astuti

INDAHNYA AJARAN BUDDHA

“JANGAN PERCAYA BEGITU SAJA”

            Agama Buddha agama yang unik dan berbeda dengan konsep ajaran agama lain, unik tidak ada upacara pengorbanan, semua makhluk tidak ada yang tak terampuni, universal,  toleransi tinggi. Teladan luar biasa dari toleransi umat Buddha ditunjukkan oleh Kaisar Asoka. Salah satu dekritnya yang terukir di batu karang dan masih ada sampai hari ini di India:  “Seseorang seharusnya tidak hanya menghormati agamanya sendiri dan mengutuk agama lain, tetapi juga harus menghormati agama lain karena satu dan lain hal. Dengan bertindak demikian, seseorang juga menolong agamanya sendiri untuk tumbuh sekaligus memberikan pelayanan bagi agama lain. Dengan bertindak sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendiri sekaligus merugikan agama lain”, banyak agama yang berkembang di masyarakat yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda, meskipun berbeda bukan menjadi penghalang untuk menjalin kerukunan dan saling menghargai antar agama baik dari segi ajaran ataupun sikap dari agama lain yang merendahkan atau menganggap agama yang paling benar, dengan toleransi yang tinggi akan menciptakan kerukunan karena yang beda tidak harus disamakan dan yang sama tidak harus dibedakan.

Ajaran Buddha tidak mencegah seseorang untuk mempelajari ajaran agama lain, Buddha mendorong umat Buddha untuk mempelajari dan membandingkan ajaran Buddha dengan agama lain. Umat Buddha memiliki kebebasan untuk mempelajari atau mendalami ajaran agama lain dengan tujuan untuk pemahaman dan wawasan yang ingin diketahui, Buddha tidak melarang jika agama lain ingin mempelajari, memegang, membaca, buku-buku Dhamma yang diajarkan oleh Buddha karena manusia memiliki kebebasan untuk berpikir secara bebas. Jika manusia menyadari bahwa dirinya tidak dapat menemukan kepuasan atau kecocokan melalui agamanya yang tidak dapat memberikan jawaban atau memuaskan pertanyaan tertentu, manusia tidak memiliki kebebasan untuk melepas agamanya dan menerima agama lain yang sesuai, dengan alasan pewenang agama, pemimpin dan anggota keluarga telah mengambil kebebasan karena manusia memiliki hak dan kewajiban untuk memilih agama yang sesuai dengan dirinya, bukan dipaksakan dengan aturan-aturan yang mengikatnya. Manusia bebas memilih yang sesuai dengan dirinya dan orang lain atau lingkungan sebagai pendukung dari pilihan bukan sebagai penghambat ataupun yang melarang dan memberi hukuman karena berpaling ke agama lain.

Buddha tidak menyarankan untuk menerima begitu saja ajarannya, tidak terburu-buru dengan konsep yang telah diajarkan Buddha tetapi umat dapat mempertimbangkan ajarannya dengan hati-hati untuk memutuskan bagi diri sendiri apakah ajaran Buddha sesuai dengan keyakinan diri sendiri, jadi umat Buddha memiliki kebebasn untuk memilih. Kebebasan ini dimaksudkan, jika seseorang dipaksakan untuk memakan makanan yang tidak disukai maka makanan itu akan dimuntahkan, sebaliknya jika seseorang memakan makanan yang lebih disukai dan menikmati makanan yang dimakannya akan membuat dirinya bahagia. Jika seseorang memeluk agama Buddha tetapi tidak dapat memahami Dhamma dan kesulitan maka orang tersebut dapat mempelajari atau memahami agama lain yang cocok dan membuat dirinya bahagia dan tenang.

Pengikut agama lain beberapa besikap fanatik, sikap fanatik tidak dapat memandu dirinya dengan nalar bahkan dengan prinsip-prinsip hidupnya dan analisis. Sikap ini menimbulkan sikap yang sukar untuk berdialog karena menganggap dirinya dan agamanya yang paling benar. Umat Buddha bebas  untuk berpikir terbuka, tidak tunduk pada siapapun dalam perkembangan spiritual tetapi dengan pemahaman. Buddha sebagai seorang guru yang menunjukan jalan kebebasan dari samsara (penderitaan). Umat Buddha untuk tidak mempercayai segala sesuatu tanpa mempertimbangkan dengan baik. Pada Kalama Sutta Buddha memberikan panduan:

”Jangan percaya begitu saja terhadap apa yang telah kamu dengar; Jangan percaya begitu saja akan tradisi, desas-desus, atau omongan banyak orang; Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu tertulis di dalam kitab agamamu; Namun melalui pengamatan dan analisis, bila kamu temukan bahwa suatu hal sesuai dengan nalar dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengan hal tersebut”

Umat Buddha disarankan untuk menerima praktik-praktik religius dengan pengamatan dan analisis yang hati-hati dan keyakinan dan kecocokan dengan akal budi serta mendukung untuk kebaikan diri sendiri dan orang lain. Umat Buddha tidak bergantung pada kekuasaan eksternal untuk menyalamatkan diri dengan membasmi kekotoran batin untuk menemukan pembebasan tertinggi (Nibbana). Dalam Brahma Jala Sutta:

“jika seseorang berkata buruk tentang Aku, ajaran-Ku dan murid-murid-Ku, janganlah marah atau takut, karena reaksi semacam ini hanya akan menyakitimu. Sebaliknya jika seseorang berkata baik tentang Aku, ajaran-Ku dan murid-murid-Ku, janganlah terlalu gembira, tergetar atau berbesar hati, karena reaksi semacam ini hanya akan menjadikan hambatan dalam membentuk penilaian yang benar, jika kamu berbesar hati, kamu tidak dapat menilai apakah kualitas yang dipuji adalah nyata dan benar-benar ditemukan dalam diri kita”

Dalam Brahma Jala Sutta mengambarkan niat yang tak memihak dari umat Buddha. Buddha menjunjung tinggi kebebasan agama baik spiritual atau pola pikir. Kebebasan manusia sebagai manusia yang memiliki hak dan kewajiban untuk memilih, kebebasan dari kekuasaan dogma, percaya begitu saja dengan ajaran yang didengarnya atau dipelajarinya tanpa menganalisi secara logis ataupun rasional dan kebebasan hukuman keagamaan, jika melakukan kesalahan akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya. Umat Buddha Jangan percaya begitu saja dengan apapun datang dan buktikanlah sendiri.

Referensi:

  • Dhammananda, Sri.2005. Keyakinan Umat Buddha. Diterjenahkan oleh Ida Kurniawati.______: Yayasan Penerbit Karaniya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s