INDAHNYA AJARAN BUDDHA TIDAK ADA UPACARA PENGORBANAN

Posted: April 10, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By       : Dwi Astuti

 

Tradisi yang ada di masyarakat masih ada pengorbanan yang dijalakan, dari tradisi yang dilakukan ada upacara pengorbanan yang digunakan sebagai syarat tradisi. Pelaksanaan upacara pengorbanan sesuai dengan latar belakang dari masyarakat setempat misal, dalam tradisi kejawen masih ada selametan upacara kematian yang dibuat selametan dan diadakan kenduren dengan masyarakat sekita, selamtean ini diadakan saat 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari setelah kematian. Para ibu-ibu memasak yang akan dikendurikan salah satunya ada ayam atau hewan yang dibunuh, atau dalam agama islam ada kekah dengan membunuh hewan yang digunakan sebagai tunggangan sesudah meninggal, atau upacara korban yang dilakukan satu tahun sekali oleh umat islam.

Dalam agama Buddha pembunuhan merupakan perbuatan buruk yang membuat makhluk lain menderita, kesakitan bahkan sampai memutus kamma pada makhluk tersebut untuk hidup. Pada Pancasila Buddhis sila ke-1 yang berbunyi Pānātipātā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi yang berarti aku bertekat melatih diri menghindari pembunuhan makhluk hidup. Pānātipātā terdiri dari kata pana yang berarti makhluk hidup atau kehidupan dan atipata berarti berakhir atau lepas dengan cepat, sehingga digabung dan dapat diartikan menjadi membuat suatu makhluk hidup mengalami kematian atau berakhir kehidupan atau mati/meninggal sebelum waktunya. Semua makhluk hidup pasti ingin mempertankan kehidupannya selama mungkin dan takut akan kematian. Semua makhluk memiliki hak untuk hidup dan mempertahankan kehidupannya dan pembunuhan juga dilarang oleh negara.

Dalam agama buddha ada 5 hal yang dikatakan sebagai pembunuhan:

  • Terdapat makhluk hidup
  • Mengetahui bahwa makhluk tersebut masih hidup
  • Memiliki niat untuk membunuh
  • Melakukan usaha untuk membunuh
  • Makhluk tersebut mengalami kematian karena usaha tersebut

Jika faktor diatas dilakukan maka terjadi pembunuhan. Dalam Pancasila Biddhis tindakan pembunuhan dilatih karena metta atau cinta kasih dan karuna atau kasih sayang, welas asih terhadap semua makhluk, dengan metta dan karuna dapat menahan diri untuk tidak melakukan pembunuhan atau kekejaman dengan bentuk apapun karena menghargai kehidupan dan melatih untuk tidak menyakiti makhluk lain.

Melatih diri menghindari pembunuhan bukan hanya kepada manusia terhadap hewan atau binatangpun dalam agama Buddha harus dihindari. Membunuh binatang juga disebut kekejaman meskipun tidak memiliki akal dan pikiran. Berdasarkan hal itu maka dalam agama Buddha tidak ada upacara pengorbana dengan cara membunuh bintang atau hewan yang disembeleh, selain karena rasa cinta kasih serta belas kasih dan memotong kehidupan makhluk lain, karena perbuatan pembunuhan yang dilakukan akan mengakibatkan kamma atau perbuatan. Jika melakukan perbuatan yang buruk maka akan menuai atau berbuah perbuatan buruk dan sebaliknya jika melakukan perbuatan baik maka akan menuai perbuatan baik dan yang akan menerima akibat adalah pelaku kejahatan.

Buddha tidak menyetujui pengorbanan hewan karena memandangnya sebagai hal yang kejam dan tidak adil bagi siapa pun yang merusak kehidupan makhluk lain demi keuntungan diri sendiri. Hal yang kejam karena dilakukan dengan cara menyakiti dan dipaksa, tidak adil karena kehidupan yang dirampas makhluk lain yang harus mengakhiri kehidupan di dunia apalagi melakukan pembunuhan dengan maksud untuk kepentingan diri sendiri. Dalam tradisi masyarakat melakukan upacara pengorbana tidak disalahkan dalam agama Buddha, jika ingin menjalankan dhamma ataupun tidak menjalankan dhamma yang menerima akibat adalah diri sendiri.

Referensi:

Tim Penyusun.2003.Materi Kuliah Agana Buddha Kitab Suci Vinaya Pitaka. Jakarta: CV Dewi  Karyana Abadi.

 

 

 

Komentar
  1. pencerahankita mengatakan:

    Tradisi yang ada di masyarakat masih ada pengorbanan yang dijalakan, dari tradisi yang dilakukan ada upacara pengorbanan yang digunakan sebagai syarat tradisi.

    –> cara menyambung yg aneh..
    –> cek ejaan
    –> cek ketikan

  2. Endang setiowati mengatakan:

    Saya selalu terkagum kagum sama ajaran buddha

  3. Endang setiowati mengatakan:

    Saya sebenernya beragama islam, tapi semakin saya berfikir, agama islam kurang pas dengan pemikiran saya. Saya ingin mempelajari buddha lebih dalam, tapi terus terang saya takut sama ortu. Kemana saya seharusnya belajar? Mohon bantuannya ya?

    • dewilastuti mengatakan:

      mb endang semua butuh proses. menurut saya utk mengenal agama buddha tidak harus masuk ke dalam agama buddha ,,,, karena mempelajarai agama buddha bisa melalui berbagai jalan. contoh: mengikuti ceramah yang ada di dalam perayaan agama buddha, mb bisa mengunjungi vihara atau bhikkhu atau mengikuti praktik meditasi dan buku2 tentang ajaran buddha/kehidupan. dengan demikian mb tidak harus menentang kehendak orang tua. karena utk mengenal agama buddha tidak harus masuk dalam agama buddha tetapi bagaimana kita dapat memahami dan mempraktikan nilai yang terkandung di dalam agama buddha yang sesuai.
      maaf baru blz…. semoga sukses

      • Endang setiowati mengatakan:

        Iya terima kasih atas jawabannya. Memang saya masih beragama islam tapi hati udah menjadi buddhis dan tindakan saya semoga benar2 menjalankan ajaran buddha. Sekedar sharing ya sist setelah mengikuti ajaran buddha hidup saya jadi sangat damai.ini pencarian saya setelah 10thn, setelah saya meragukan semua agama berasal dari tuhan.

      • Endang setiowati mengatakan:

        Maaf agak menyimpang, saya mau tanya dimana saya bisa mendapatkan majalah mutiara minggu dan apa saja isinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s