Review 7

Posted: April 2, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By: Dwi Astuti

ASEVANĀ CA BĀLĀṀ  (Tak Bergaul dengan Orang Bodoh)

            Perkembangan jaman semakin berkembang baik teknologi, gaya hidup dan pergaulan. Teknologi membantu untuk mempermudah mencari informasi yang dibutuhkan dan lebih cepat, gaya hidup masyarakat berubah mengikuti tren masa kini, gaya berpakaian, gaya rambut, gaya bicara yang berkembang di masyarakat maupun dunia dan pergaulan yang berkembang dalam masyarakat. Di kota pergaulan yang bebas lebih mudah dengan kondisi yang mendukung dari lingkungan yang acuh dan tidak mau tahu dengan sekelilingnya. Pergaulan sangat mempengaruhi perilaku seseorang, jika pergaulan dengan teman yang tidak baik misal, bergaul dengan para perampok, pencuri, penjudi dan pemabok akan membahayakan diri sendiri jika salah dalam pergaulan yang dapat membentuk karakter yang buruk, pergaulan anak-anak remaja berkeliaran di malam hari, berkelahi yang menyebabakan pergaulan bebas dan terjerumus ke gaya pacaran yang berlebihan sehingga terjadi sex bebas.

Secara harfiah makna “Asevanā ca bālāṁ” adalah “tidak bergaul dengan atau tidak bekerja sama dengan orang bodoh”, kata” bālā” diartikan sebagai orang bodoh. Dalam Mahā Maṅgala Sutta atau Berkah Utama yang dibabarkan Buddha merupakan anjuran agar seseorang tidak mencari dan mengikuti mererka yang tidak bijaksana karena karakter seseorang mencerminkan pergaulannya. Jika seseorang bergaul dengan orang yang bodoh dengan sendirinya akan terbawa menjadi bodoh karena terpengaruh dari lingkungannya bergaul. Dalam Agama Buddha kriteria orang bodoh adalah orang-orang yang menyimpang dari Dhamma yang menyebabkan tindakan amoral dan selalu merugikan orang lain. Amoral merupakan perbuatan yang tidak memiliki moral atau perilaku yang buruk, tidak dapat membedakan perbuatan yang baik maupun buruk yang dapat merugikan orang lain misal, terlibat dalam pembunuhan, pencurian, perzinahan, ucapan yang tidak benar dan tercandu pada minuman yang berakohol yang tidak menyadari akibatnya.

Dalam Agama Buddha orang dikatakan bodoh mempunyai 3 ciri yaitu:

Kayaduccarita 3 (3 kejahatan dari jasmani):

  • Panatipata (pembunuhan), membunuh makhluk hidup dengan kejam, suka memukul dan bertindak kekerasan, tidak berbelas kasihan kepada makhluk hidup.
  • Adinnadana (pencurian), mengambil barang yang bukan miliknya dengan cara mencuri kekayaan atau harta milik orang lain, mengambil tanpa meminta izin dari pemilik.
  • Kamesumicchacara (perzinahan), berperilaku salah dalam kenikmatan-kenikmatan indera misal, berhubungan dengan istri atau suami orang lain, berhubungan tanpa ada suatu ikatan yang resmi.

Vaciduccarita 4 (4 kejahatan dari perkataan):

  • Musavada (berdusta atau berbohong), berbohong pada orang lain berkata yang bukan sebenarnya dengan tujuan untuk mencari keuntungan untuk dirinya sendiri misal, berbohong dengan melakukan penipuan kuis berhadiah, undian berhadiah yang membuat orang lain terjerumus dan memberikan uang.
  • Pisunavaca (memfitnah), misal mengadudomba orang lain atau menuduh orang lain melakukan perbuatan yang buruk yang sebenarnya dirinya sendiri yang melakukan.
  • Pharusavaca (bicara kasar), berbicara yang menyinggung orang lain dengan keras sehingga menyakiti orang lain, marah-marah.
  • Samphappalapa (berbicara hal-hal yang tidak perlu atau omong kosong), menggosip, bicara yang bukan fakta yang tidak bermanfaat.

Manoduvaccarita 3 ( 3 kejahatan dari pikiran):

  • Abhijjha (nafsu loba atau keserakahan), timbul iri hati dengan milik orang lain.
  • Byapada (kemauan jahat atau dendam), timbul pikiran penuh niat jahat “semoga orang yang dibenci mati kecelakaan”.
  • Miccha-ditthi (pandangan salah), tidak percaya dengan hukum kamma atau perbuatan yang akan membawa akibat pada pelaku kejahatan, menganggap tubuh ini kekal yang menimbulkan kemelekatan ingin memiliki yang sebenarnya tubuh ini mengalami timbul, berlangsung dan padam.

Orang yang memiliki 3 ciri seperti orang bodoh akan larut dalam tindakan yang tidak bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain dan lingkungannya misal, melakukan pembunuhan dan pencurian akan membuat lingkungan tempat pelaku kejahatan menjadi cemas dan takut dengan pebuatanya.

Apakah harus menghindarinya?

Menghindari orang yang bodoh adalah menghindari orang-orang yang memiliki perilaku yang tidak benar, menghindari pergaulan dengan orang-orang yang dianggap memiliki perilaku yang tidak benar tetapi tidak juga membenci tetap bersikap ramah yang dihindari adalah sikap yang salah atau perilaku yang dilakukannya, sikap yang tidak bijaksana, tidak berpikiran jernih, kasar yang membentuk karakter yang buruk. Oleh karena itu menjauhi diri dari orang bodoh merupakan berkah utama yang membawa rasa aman, nyaman dan tidak dihantui rasa bersalah.

Referensi:

  • Abhayanando, Bhikkhu.2011.Berkah yang Sesungguhnya.Tangerang:Vihara Dharma Ratana.
  • Panjika.2004. Kamus Umum Buddha Dharma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Center.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s