AT THE END OF LIFE (KEMATIAN SUATU MAKHLUK)

Posted: Maret 29, 2012 in Agama Buddha dan Ilmu Pengetahuan

By: Dwi Astuti dan Wahyu Widyaningsih


Pendahuluan

Segala sesuatu pasti akan berakhir suatu saat, ini adalah sifat ketidakkekalan atau anicca, semua makhluk yang hidup di 31 alam kehidupan tentu mengalami kematian. Kematian tidak dapat dielakkan lagi oleh makhluk hidup. Kematian dari seseorang ada berbagai macam cara orang tersebut mengalami akhir kehidupan, hal tersebut sesuai dengan kamma masing-masing makhluk. Kematian dapat dianggap sebagai dukkha bagi mereka yang memiliki rasa takut, selain itu umur tua juga akan menjadi dukkha. Kematian dan usia tua tidak dapat kita hindari karena itu semua merupakan proses kehidupan, yaitu timbul, berlangsung dan nantinya akan mati. Berdasarkan suatu fakta, bahwa terdapat banyaknya manusia yang masih memiliki rasa takut dalam menghadapi kematian dan belum dapat memahami tentang kematian,  maka penulis akan membahas dan mencoba memberi pengertian  melalui makalah yang berjudul at the end of life.

Pembahasan

Definisi kematian

Terdapat beberapa definisi mengenai mati, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengertian mati yaitu sudah hilang nyawanya, tidak mempunyai nyawa, tidak ada gerakan atau kegiatan (KBBI, 2008: 904). Makhluk yang tidak memiliki nyawa dan tidak dapat bergerak atau melakukan kegiatan apapun untuk bertahan            hidup, itulah yang dikatakan mati.
  2. Pengertian mati menurut pandangan tradisional diartikan dengan:

“Death has traditionally been determined, at least in the West, by the cessation of respiration and heartbeat.Once these vital functions have ceased the failure of all other organic systems follows almost immediately” (Buddhism and Bioethics, 2001:140).

Makhluk dikatakan hidup karena terdapat adanya nafas. Maka suatu makhluk hidup dikatakan mati jika tidak adanya pernapasan, dan terhentinya fungsi organ-organ vital yang menyokong makhluk tersebut untuk tetap hidup.

Konsep kematian otak

Konsep kematian berdasarkan fungsi otak

Komite ad hoc dari Sekolah Kedokteran Havard (1986): Makhluk hidup dikatakan mati jika ketidakadanya fungsi otak pada semua tingkatan, yaitu otak tengah, batang otak, dan bahkan atas tingkat tulang belakang.  Kematian dapat dinyatkan ketika (tidak adanya obat penekanan sistem saraf, penggunaan obat dan stimulus buatan)  pasien menunjukkan 3 hal, yaitu:

a.  Unreceptivity and unresponsivity

Jika makhluk tersebut tidak memiliki respon sama sekali terhadap segala Sesuatu yang ada di sekitarnya.

b.  No movements and brathing

Jika makhluk tersebut tidak ada gerakan serta tidak adanya napas yang menunjukkan kehidupan.

c.   No reflexes

Jika tidak adanya refleks atau gerakan-gerakan refelks yang terjadi apabila manusia tersebut diberikan suatu sentuhan-sentuhan yang dapat menimbulkan refleks.

Konsep Kematian menurut Buddhism

Seseorang dikatakan mati apabila kesadaran ajal (cuticitta) telah muncul dalam dirinya. Pada unsur-unsur jasmaniah, kematian ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup (jivitindriya) (Jan Sanjivaputta, 1999: II-5). Berdasarkan konsep tersebut bahwa kematian suatu makhluk apabila kesadaran telah mati serta ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup (indria yang dimiliki makhluk tersebut tidak berfungsi lagi). Konsep kematian dalam Buddhis yang ditandai dengan terputusnya kemampuan hidup, juga terdapatnya kehendak untuk mati. Hal ini terdapat dalam Damien Keown:

The Buddhist would like to see death defined as the stage where a patient has experienced “volition death”…. (Buddhism and Bioethics, 2001: 143-144).

Semua makhluk yang mati tentu mengalami kondisi, adapun kondisi kematian dalam Buddhism, yaitu (Damien Keown, 2001: 156-157)

 Does not mean that he is not aware, one may be aware of external stimuli without being able to respond to them The respirator be turned off for three minutes to see if the patient breathes spontaneously. But for fifteen minute or more migh be a sure confirmation that respiration will not restart.

Buddhism tidak mendefinisikan kematian disebabkan oleh bukti tentang hilangnya kesadaran. Lebih signifikan yaitu kematian pada otak, bukan hilangnya kesadaran tetapi kehilangan kapasitas otak untuk berkoordinasi dengan fungsi organ pada tubuh.

Jadi menurut Buddhism, Kematian adalah kematian biologis, dan kehidupan adalah kehidupan biologis, nama-rupa hancur, vinnana tetap berlanjut, Otak tidak berfungsi, vinnana tetap berproses untuk membentuk individu baru. Hilangnya kesadaran bukan acuan definisi kematian. Hilangnya kemampuan otak secara komprehensif diikuti ketidakfungsian organisme yang lain.

Tiga hal yang membedakan orang mati dan orang hidup:

ž  Vitalitas (ayus) atau kemampuan untuk bertahan hidup, panas (usman) dan kesadaran (vinnana).

ž  Digha Nikaya: Yang Terhormat, pada orang yang sudah mati, meninggal, fungsi tubuh berhenti dan diam, fungsi vokal berhenti dan diam, dan fungsi-fungsi mental telah berhenti dan diam: vitalitas punah, panas sudah berlalu, arti fakultas yang patah terbelah. Dalam biarawan di negara bagian penghentian fungsi tubuh berhenti dan diam, fungsi vokal berhenti dan diam, dan fungsi-fungsi mental telah berhenti dan istirahat: vitalitas tidak punah, panas tidak hilang, dan rasa fakultas yang disucikan. Ini, Anda Terhormat, adalah perbedaan antara orang yang sudah mati, meninggal, dan seorang biarawan yang telah mencapai keadaan penghentian.

Macam-macam kematian

a)      Khanika Marana, Kematian atau kepadaman unsur-unsur batiniah dan jasmani pada tiap-tiap saat akhir (bhanga)

b)      Sammuti Marana, Kematian makhluk hidup berdasarkan persepakatan umum yang dipakai oleh masyarakat dunia.

c)      Samuddheda Marana, Kematian mutlak yang merupakan keterputusan pada dasarnya diakibatkan oleh empat macam sebab.

Kematian yang dialami oleh semua makhluk, yaitu dapat terjadi dengan empat sebab:

  • Ayukkhaya Marana (Kematian yang disebabkan habisnya usia)
  • Kammakkhaya Marana (Kematian yang disebabkan habisnya kamma)
  • Ubhayakkhaya Marana (Kematian yang disebabkan habisnya usia dan kamma)
  • Upacchedaka Marana (Kematian yang disebabkan gangguan lain)

Koma/Persisten Vegetatif State (PVS)

Adalah kerusakan total pada otak, batang otak pasien tatap berfungsi namun otak korteknya tidak berfungsi. Kondisi pasien koma hampir sama dengan orang mati.

Contoh:

  1. Karen Quinlan: koma selama lebih dari sepuluh tahun; mampu merespon suara keras dan rangsangan sakit; dapat menguap; berkedip, meringis, berteriak dan membuat gerakan mengunyah; sama sekali tidak mengetahui siapa pun atau apa pun di sekelilingnya.
  2. Tony Bland (April 1989 ):paru-parunya hancur dan tertusuk; pasokan oksigen ke otak terputus;kerusakan total otak; nafas lancar; pemcernaan baik; Mata terbuka namun tidak dapat melihat; tidak bisa mendengar; ada gerakan refleks sebagai respon terhadap rangsangan rasa sakit;tidak mampu membuat gerakan secara sadar dan tidak dapat merasakan sakit; tidak bisa merasakan atau mencium; Dia tidak dapat berbicara atau berkomunikasi dengan cara apapun; tidak memiliki fungsi kognitif dan dapat merasa ada emosi, apakah kesenangan atau kesedihan.

Perlakuan terhadap pasien koma:

ž  Perawatan dan pemberian asupan nutrisi dengan peralatan medis untuk mempertahankan hidupnya.

ž  Pertimbangan Hukum Amerika: mengizinkan penghentian pemberian asupan nutrisi dengan pertimbangan kesia-siaan karena hidup pasien tidak mungkin dipertahankan.

ž  Penghentian pemberian asupan akan mempercepat kematian pasien koma.

ž  Solusi Buddhis: pasien tetap dirawat semampunya seperti pasien pada umumnya dengan alasan kemanusiaan.

Euthanasia

Eutanasia:pembunuhan yang disengaja pasien atau kelalaian sebagai bagian dari perawatan medis. Bentuk eutanasia yaitu aktif dan pasif. Eutanasia aktif adalah pembunuhan yang disengaja oleh satu orang bertindak, seperti misalnya, dengan suntikan mematikan. Eutanasia pasif adalah yang disengaja atau sengaja menyebabkan kematian oleh kelalaian misalnya, menghentikan pemberian asupan nutrisi pada pasien koma. Masing-masing dari kedua bentuk eutanasia dapat dibagi dalam tiga jenis:

  1. Sukarela (atas permintaan pasien),
  2. Non sukarela (atas pertimbangan orang lain cth: penghentian pemberian asupan nutrisi pada pasien koma),
  3. Tidak disengaja.

Euthanasia dalam Vinaya

Eutanasia: langsung atau tak langsung merupakan parajika.

Contoh:

  1. Bhikkhu yang memprovokasi umat perumah tangga agar bunuh diri karena bhikkhu menginginkan istri umat itu.
  2. Bhikkhu yang kasihan terhadap tawanan, dan memprovokasi algojo agar mempercepat eksekusi.
  3. Bhikkhu yang kasihan terhadap penderitaan orang yang kaki dan tangannya terpotong dan memprovokasi agar mengakhiri hidupnya.

Menurut Vinaya: segala bentuk pembunuhan ditolak atau tidak diperkenankan. Karena semua makhluk memiliki hak untuk hidup, sehingga berhak juga untuk mempertahankan hidup.

Euthanasia dalam Pandangan Modern

  1. Philip Kapleau mengkritisi Buddhisme: Setuju akan keberlanjutan vinnana dalam menyambung kehidupan. Kehidupan tidak berhenti pada kematian biologis; eutanasia dengan alasan menghindari penderitaan adalah sia-sia. Penghentian perawatan dan pemberian nutrisi boleh dilakukan dengan alasan mendasar. Perawatan menjadi sia-sia karena pasien sudah tidak dapat diselamatkan dan pertimbangan dukungan medis dan tanpa ada niat mempercepat kematian.
  2. Philip Lecso mengkritisi Buddhisme: Eutanasia ditolak dasar pertimbangan kamma. Sakit merupakan buah kamma yang harus dilunasi.
  3. Louise van Loon: Buddhisme menyetujui eutanasia karena orang yang koma, sakit kronis, dan ingin mengakhiri hidupnya sudah memiliki kemauan (cetana) mati. Kriteria eutanasia: kemauan dan rasa sakit.

Kesimpulan

Buddhisme memahami kematian sebagai kematian biologis, yaitu kematian dari fungsi otak secara komprehensif dan diikuti ketidakfungsian organisme lainnya, bukan sebagai kematian kognitif. Seseorang yang mengalami kematian itu bukan berarti vinnana yang ada akan hilang melainkan vinnana tersebut akan terus berlanjut menuju proses punabhava. Kematian seseorang melalui euthanasia menurut pandangan Buddhis, yaitu buddhisme menolak kematian melalui euthanasia berdasarkan vinaya. Tetapi buddhisme juga mentolerir euthanasia berdasarkan alasan yaitu penderitan (dukkha).

 

Referensi:

ž  Keown, Damien. 2001. Buddhism and Bioethics. London: University of London.

ž  Sanjivaputta, Jan.1999. Menguak Misteri Kematian. _____: LPD Publisher.

ž  Vajiramedhi, W. 2008. Memandang Kematian di Mata. _____: Yayasan Penerbit Karaniya.

ž  Venerable Acharn Maha Boowa Nanasampanno. 1999. To the Last Breath. Taiwan: The Corporate Body of the Buddha Education Foundation.

ž  Tim Penyusun.2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka.

ž  Walshe, Maurice. 2009. Dīgha Nikāya. Medan: Dhamma Citta Press.

ž  Panjika, J Kharuddin.2005.Abhidhammatthasangaha.Jakarta: CV. Yanwreko Wahana Karya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s