Review 6

Posted: Maret 24, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

Nama   : Dwi Astuti    (09.1.169)

Attitudes Towards Nuns: A Case Study of the Nandakovāda

in the Light of its Parallels

            Pada saat itu Mahaprajapati Gotami mendekati Buddha memohon untuk melatih dan belajar Dhamma pada bhikkuni, karena Buddha telah menjadi tua tidak mampu lagi mengajar dhamma kepada 500 bhikkuni, Buddha menunjukkan bahwa terlalu tua untuk tetap memberikan ceramah kepada empat majelis, yaitu bhikkhu, bhikkhni, upasaka, upasika dan Buddha memerintahkan kepada bhikkhu senior untuk mengajar dhamma kepada para bhikkuni secara bergiliran.

Ada seorang Bhikkhu yang bernama Nandaka mendengar perintah dari Buddha hanya diam tetapi tetap mengajarkan dhamma pada bhikkhuni. Saat tiba giliran Bhikkhu Nandaka untuk mengajarkan Dhamma, di pagi hari Nandaka memakai jubah dan mengambil mangkuk untuk memasuki kota Savatthi untuk mengumpulkan dana makanan,  kemudian kembali ke vihara, menyimpan jubah dan mangkuk setelah dicuci kakinya memasuki ruangan untuk duduk melakukan meditasi, mengenakan jubah luar dan berjalan ke tempat bhikkuni berkumpul untuk mengajarkan Dhamma.

Bhikkhu Nandaka memjelaskan tentang anicca atau ketidakkekalan “ini milikku, ini aku, ini adalah diriku, apakah ada-aku, jika para bhikkuni menganggap bahwa ini milikku, ini aku, ini adalah diriku”, Nandaka menjelaskan bahwa keadaan atau tubuh tidak kekal akan berubah dan hancur, jika menganggap adanya aku atau diri akan menimbulkan dukkha  atau penderitaan, indera yang ada pada tubuh dan pikiran juga akan mengalami perubahan dan seorang bhikkhuni harus mengendalikan 12 landasan indera yaitu landasan eksternal dan internal, landasan mata mencerap objek benda, hidung mencerap objek bau, telinga mencerap objek suara, lidah mencerap objek rasa, kulit mencerap sentuhan dan pikiran mencerap kenangan atau memori lampau. Landasan eksternal adalah landasan yang dicerap oleh indera dan landasan internal adalah landasan indera dan bhikkhuni mengendalikan landasan indera agar pikiran terjaga dan tidak lalai atau lengah selalu waspada agar tidak menimbulkan kemelekatan.

Bhikkhu Nandaka untuk ke dua kalinya bertugas mengajarkan Dhamma kepada bhikkuni tetapi Nandaka lalai untuk mengajar, Buddha menemuinya dan menanyakan alasan atas kelalaiannya, Nandaka menjawab alasan tidak mengajaarkan Dhamma karena merasa takut jika para bhikkhuni mencapai tingkat kesucian Arahat dan memiliki kemampuan untuk mengingat kehidupan yang lampau akan mengetahui bahwa Nandaka pernah menjadi suami dari salah satu lima ratus bhikkuni yang diajarnya, karena dapat mengingat kenangan-kenangan saat Nandaka terlahir sebagai anak dari seorang pedagang yang memiliki seorang istri dan sebagai brahmana yang akan menimbulkan kemelekatan pada mantan istrinya.

Buddha menasehati Nandaka kelahiran sekarang merupakan kondisi sekarang dan yang lampau adalah yang lalu, mantan istri Nandaka sekarang menjalani kehidupan bhikkuni dan keadaan batin maupun pikiran terkendali dengan menjalankan dhamma, maka tidak ada ketakutan dan rasa kemelekatan untuk terikat dengan Nandaka. Pandangan salah dan ketakutan dari Nandaka diluruskan Buddha bahwa keadaan yang lampau dan sekarang merupakan dua kondisi yang berbeda, keadaan lampau sebagai akibat dari keadaan sekarang yang mengalami anicca. Pada akhirnya Nandaka mengajarkan Dhamma dan bhikkuni menerima alasan dari Nandaka tidak mengajar Dhamma. Para bhikkuni mencapai kesucian Arahat dan telah mengakhiri dukkha.

 

Referensi:

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s