APAKAH CLONING TERMASUK TUMIMBAL LAHIR?

Posted: Maret 19, 2012 in Filsafat Buddha

By:  Dwi Astuti   

Secara umum, definisi cloning adalah proses memperbanyak materi biologi yang dapa mencakup DNA, sel, tissue, organ, maupun organisme, dimana materi yang diperbanyak tersebut (clone) memiliki DNA yang sama dengan induknya. Karena DNA (deoxyribonucleic acid) menyimpan informasi genetik, maka clone memiliki informasi genetik yang sama dengan induknya, saya akan membahas Reproductive cloning adalah membuat organisme baru (clone) dimana DNA clone tersebut memiliki identitas yang sama dengan DNA induknya. Proses yang digunakan dalam reproductive cloning adalah sama dengan proses therapeutic cloning, akan tetapi embryo yang terbentuk tersebut dibiarkan berkembang di dalam rahim (surrogate mother). Manfaat reproductive cloning antara lain, teraihnya ras unggul di dalam industri peternakan yang akan menghasilkan hewan-hewan dan produk hewan yang unggul, membangkitkan kembali species yang telah punah.

Menurut pemahaman saya sebagai umat Buddhisme berpendapat bahwa munculnya atau terbentuknya makhluk hidup bukanlah berasal dari hasil ciptaan, akan tetapi berasal dari kegelapan batin. Karena kegelapan batin inilah, makhluk bertumimba lahir. Dengan lenyapnya kegelapan batin ini, maka lenyap juga tumimba lahir ini. Di sini tak dikenal adanya ‘ego’ (roh, inti, keabadian mutlak), dan makhluk hidup terus bertumimba lahir dikarenakan kegelapan batin ini. Ajaran ini dikenal juga sebagai hukum sebab akibat yakni terbentuknya segala sesuatu adalah karena adanya penyebab. Dengan berakhirnya penyebab tersebut, maka berakhir pula akibatnya. Oleh karena itu, konsep reproductive cloning tidak dapat dikatakan bertentangan dengan ajaran Buddha. Cloning sebenarnya bukanlah proses ilmiah yang aneh dalam pandangan Buddisme karena Buddhisme selalu memandang segala sesuatu sebagai rantaian sebab akibat. Proses cloning hanya dapat berhasil setelah ilmuwan mengerti sebab dan akibat, yakni embryo dapat terbentuk dari hasil pembelahan sel ovum yang  2 set kromosom. Dengan menyediakan kondisi yang cocok untuk perkembangan embryo, maka tak heran bayi akan terbentuk. Jadi bila kondisi yang tepat ada, maka akan bersatulah unsur batiniah (nama) dan fisik (rupa) yang kemudian akan lahir menjadi seorang bayi.

Menurut pendapat saya cloning termasuk kelahiran kembali melalui telur (andaja patisandhi) makhluk atau hewan dikandung dalam telur di rahim induknya. Dalam hal kelahiran kembali dalam cloning karena sebab atau bantuan dari manusia yang menyebabkan akibat terbentuknya hewan yang baru. Dalam agama Buddha ada 31 alam kehidupan ada alam apaya 4 termasuk alam hewan sebagai sebab kelahiran kembali dari kamma yang dilakukan, hewan yang dilakukan dengan cloning  terlahir kembali yang dikondisikan oleh manusia itu sendiri sehingga menimbulkan sebab yang baru, terjadi proses dalam rahim hewan yang melalui proses cloning yang akan menghasilakan banyak atau sedikit yang akan terlahir tergantung berhasil atau tidaknya proses cloning di dalam rahim hewan tersebut. Menurut etika ataupun Filsafat dalam Buddhis cloning tidaklah bertentangan dengan ajaran buddha.

Referensi:

http://dhammacitta.org/artikel/cloning-dari-sudut-pandang-buddhis/ (diakses kamis, 16 februari 2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s