Posted: Maret 19, 2012 in Filsafat Buddha

By:  Dwi Astuti  

PERLUKAH KONSEP KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA

            Buddha bukanlah Tuhan dalam agama Buddha. Dalam ajaran agama Buddha bukanlah Tuhan dalam agama Buddha yang bersifat non-teis yakni, tidak mengajarkan keberadaan Tuhan sebagai pencipta atau bergantung kepada Tuhan sebagai pencipta semesta serta manusia dan menolong dalam usaha mencapai pencerahan ataupun meminta segala yang diinginkan, Buddha adalah pembimbing atau guru yang menunjukkan jalan menuju Nibanna. Pandangan umum tentang Tuhan menjelaskan suatu keberadaan yang tidak hanya memimpin tetapi juga menciptakan alam semesta. Pemikiran dan konsep tentang inilah yang sering diperdebatkan oleh umat Buddhis dalam perpecahan agama Buddha. Dalam agama Buddha, sebab awal dan penciptaan alam semesta bukan berasal dari Tuhan, melainkan karena hukum sebab dan akibat yang berproses. Dalam agama Buddha, tidak ada makhluk sakti yang menjadi pencipta segalanya. Buddha menyatakan bahwa pemikiran kitalah yang telah menjadikan dunia ini, Buddha menganggap buah pikiran sebagai pencipta, pelopor, pembentuk dan pemimpin bagi diri sendiri.

Menurut saya konsep ketuhanan perlu karena saya tinggal di Indonesia yang sangat percaya tentang adanya Tuhan dalam beragama dan berpedoman tinggi pada Tuhan, karena di Indonesia nenek moyang jauh sebelum mengenal Tuhan sudah Bertuhan, jadi untuk menyesuaikan diri dan dapat diterima serta dapat berkembang maka agama Buddha ada konsep ketuhanan yang dijelaskan dalam kitab Udana VIII,  tetapi dalam agama Buddha tidak mengenal Tuhan. Dalam agama Buddha kepercayaan terhadap Tuhan dicapai bukan melalui proses evolusi atau penalaran, melainkan melalui Bodhi atau penerangan sempurna, yang mutlak dalam agama Buddha tidaklah dipandang sebagai suatu pribadi yang kepada-Nya umat Buddha memanjatkan do’a dan menggantungkan hidup mereka karena agama Buddha mengajarkan bahwa nasib, penderitaan dan keberuntungan adalah hasil dari perbuatannya sendiri di masa lampau dan sekarang.

Untuk mengerti yang mutlak sesorang dapat mengembangkan pengertian duniawi sampai mencapai pengertian keduniawian, tetapi hal ini hanya dapat dicapai oleh mereka yang telah sadar, yang telah membebaskan diri dari cengkraman samsara. Jadi dalam agama Buddha perlu konsep ketuhanan karena hal ini sebagai penegasan kepada mereka yang beranggapan bahwa agama Buddha tidak mengenal ketuhanan dan menganggap agama Buddha tidak berlandaskan ketuhanan.

–          Referensi: Malasekera. 1990. Encylopadea of Buddhism Vo.V. Sri Lanka: The Goverment.

–          Wijaya, Krishnanda Mukti. 2003. Wacana Buddha Dharma. Jakarta: Yayasan Dharma Pembangunan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s