Review 5

Posted: Maret 17, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By: Dwi Astuti

 

SIKAP BUDDHISME TERHADAP KAUM PEREMPUAN DALAM

MELEPAS KEDUNIAWIAN

            Sikap terhadap perempuan dalam Buddhis untuk memasuki anggota sangha, pada jaman Buddha status perempuan masih rendah karena sistem kasta pada lingkungan, kasta adalah golongan orang yang membedakan derajat atau kemanusiaan, di india kasta diberlakukan dan ada 4 macam kasta di india yaitu kasta brahmana, kasta kesatria, kasta pedagang, sebagai kasta tinggi dan kasta sudra sebagai kasta rendah. Tapi bagi seorang perempuan baik dari kasta tinggi atau rendah saat itu di india tidak diizinkan menjadi biarawati atau bhikkhuni. Ketika Maha Pajapati Gotami memohon pada Buddha agar diperbolehkan memasuki Sangha, Buddha tidak memperbolehkan tetapi kemudian akhirnya mengizinkan, hal ini menjadi membingungkan dan perlu pemahaman secara kontektual. Ada banyak penafsiran dalam kitab-kitab komentar, yang menimbulkan kepercayaan secara umum bahwa Buddha tidak memperbolehkan perempuan untuk menjalani hidup suci, dalam norma-norma sosial india menjalankan hidup suci bukanlah jalan yang diperuntukan untuk perempuan, kitab Manudhrama sastra menegaskan bahwa penyelamatan perempuan hanya dapat dilakukan melalui pengabdian kepada suaminya.

Maha Pajapati Gotami mantap dengan keputusannya, Maha Pajapati Gotami terkenal sebagai salah satu pelopor Sangha Bhikkhuni. Maha Pajapati Gotami bersama 500 perempuan datang menemui Buddha dan memohon kepada Buddha agar perempuan dapat ditahbiskan menjadi biarawati atau bhikkhuni, tetapi Buddha menolak, kemudian Maha Pajapati Gotami bersama 500 perempuan mencukur rambut dan mengenakan jubah kuning dan tiba di Vesali menemui Buddha tetapi karena penolakan mereka tidak menemui Buddha, para biarawati bertemu Bhikkhu Ananda menemui para bhikkuni yang bertaburan debu, dengan jubah yang tidak rapi dan kaki berdarah karena berjalan, para biarawati memohon pada Bhikkhu Ananda untuk memohon pada Buddha, tetapi Buddha menolak karena Maha Pajapati Gotami adalah seorang ratu dan 500 putri istana yang kebiasaanya hidup dalam kenyamanan, menjalani hidup bertapa tinggal di hutan dan gua yang memberatkan para perempuan dan menerima 500 biarawati untuk ditasabiskan yang membutuhkan guru untuk membimbing dan melatih para biarawati karena Buddha sudah tua dan tidak dapat mendampingi para bhikkhuni, bhikkhu, pengikit awan pria dan perempuan dan sangha belum mampu menangani sejumlah besar biarawati, para bhikkhu yang mendidik harus memiliki sikap tepat untuk kaum perempuan secara sepiritual, Buddha juga dianggap salah dalam masyarakat jika mentasbiskan perempuan karena akan memecah kekeluargaan. Kaum Sakya tidak menikah dengan orang atau suku lain, jadi jika 500 perempuan ditasbiskan menjadi bhikkuni akan mempengaruhi kondisi sosial tetapi kaum laki-laki, tetapi pada jaman itu yang menjadi bhikkhu juga banyak jadi tidak berpengaruh.

Buddha mempertimbangkan pro dan kontra tentang kaum perempuan menjadi anggota sangah. Buddha berkata bahwa kaum perempuan juga dapat mencapai penerangan sempurana, Buddha tidak menekankan kasta yang membedakan kedudukan seseorang atau derajat seseorang. Kaum perempuan sangat ingin menjadi anggota sangha maka Buddha menentukan syarat untuk perempuan untuk menjadi anggota sangha yaitu 5 orang calon bhikkhuni ditasbis oleh Sangha Bhikkhuni kemudian ditasbis oleh 5 orang Sangha Bhikkhu, pentasbisan bhikkuni dilakukan dua kali karena pada jaman Buddha ada kasus seorang bhikkuni yang sudah menikah ditasbis menjadi bhikkuni ternyata mengandung, jadi Buddha membuat aturan untuk latihan selama 2 tahun. Buddha mengizinkan kaum perempuan untuk menjadi anggota sangha dengan syarat peraturan Garudhamma atau 8 aturan keras untuk bhikkhuni diantaranya:

“seorang bhikkuni yang walaupun telah ditasbiskan selama satu abad, harus menyapa dengan hormat, berdiri dan duduk member salam dan mengakupkan kedua telapak tangan dan member sujud kepada seorang bhikkhu meskipun bhikkhu baru ditasbis, seorang bhikkuni tidak boleh melewati musim penghujan atau Vassa ditempat yang tidak ada bhikkku” (Kabilsingh, 2010: 21).

Buddha menetapkan peraturan Garudhamma yang harus dijalani seorang bhikkuni  sebagai pelindung bagi seorang bhikkuni yang berdasarkan kondisi sosial di india yang masih menggunakan sistem pengelompokan sosial yang mementingkan garis keturunan, seorang perempuan dianggap tidak dapat melindungi diri yang selalu bergantung pada orang lain dan perempuan memiliki kewajiban untuk melahirkan seorang anak laki-laki sebagai wujud keberuntungan. Jadi Buddha menetapkan peraturan Garudhamma untuk tujuan keharmonisan hidup dalam Sangha Bhikkuni  dan Sangha Bhikkhu yang dapat dianggap seperti seorang kakak dan adik perempuan yang menghormat pada orang yang lebih tua dan bhikkhu yang membantu mengajar dan melatih Dhamma.

Kesimpulan kaum perempuan diperbolehkan menjadi anggota sangha dan mampu mencapai penerangan tetapi harus menjalankan peraturan Garudhamma selama hidup yang bertujuan untuk melindungi Sangha Bhikkuni, tetapi dalam Aliran Sarvastivada atau Theravada sudah tidak ada Sangha Bhikkhuni karena sudah tidak ada, Sangha Bhikkhuni yang terakhir ada di Srilangka tetapi sekarang tidak ada karena saat itu tidak ada yang berminat untuk menjadi bhikkuni, dalam Aliran Mahayana masih ada. Buddha tidak menekan adanya sistem kasta baik laki-laki atau perempuan, Dhamma dapat disampaikan dan sebarkan seorang perempuan tanpa membedakan suku, bangsa, ras dan budaya. Sikap buddhis terhadap perempuan yang memasuki anggota sangha diperbolehkan dan bijak, peraturan Garudhamma digunakan untuk melindungi Sangha Bhikkuni tidak sombong saat di India.

Referensi:

  • Kabilsingh, Chatsumarn.2010.Women In Buddhism.Palembang:Yayasan Dharmakirti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s