PEMAHAMAN SEMEDHI KEPERCAYAAN DAN MEDITASI BUDDHIS MENURUT BAPAK SASTRO

Posted: Maret 17, 2012 in Samadhi
  1.   LATAR BELAKANG

Terasa semilir angin pegunungan yang sangat dingin tapi menyejukan, terhampar rumah-rumah sederhana dilengkapi penduduk yang ramah dan rasa gotong royongan yang masih tinggi. Di sinilah Bapak Sastro dilahir tepatnya di desa Wonoharjo, dusun Sawangan Rt 03/Rw 05 Rowokele, Kebumen, anak ke empat dari tiga bersaudara, beliau dilahirkan 58 tahun yang lalu tepatnya tanggal 15 November 1954, Bapak Sastro hanya lulusan SD dan beliau memiliki harapan pada anak-anaknya untuk menjadi orang yang sukses dengan pendidikan yang tinggi. Bapak Sastro menikah pada usia 20 tahun sekitar tahun 1980 dengan Ibu Wasiati yang dikaruniai tiga orang anak. Bapak Sastro setiap hari bekerja sebagai buruh, tani dan pembuat gula jawa. Sejak kecil tinggal di lingkungan yang memiliki kebudayaan dan tradisi yang masih dipegang kuat oleh orang tuannya, begitu juga hal tentang sepiritual yang mengikuti orang tua percaya pada kepercayaan karena pada waktu itu belum ada Agama, hingga harus pindah-pindah kepercayaan dan merasa yakin dengan agama yang dianutnya. Bapak Sastro juga pernah memeluk agama islam kira-kira selama 20 tahun sebelum akhirnya pindah ke agama Buddha. Kenapa saya memilih Bapak Sastro sebagai narasumber saya karena dalam diri beliau sangat menarik dari segi pengalaman dalam hal spiritual dan karena dari kecil tidak langsung memeluk agama Buddha menjadi menarik kehidupannya dalam mencari jati diri kedamaian dalam dirinya

2. PEMBAHASAN

Bapak Sastro Memeluk Agama Kepercayaan “Saptodharmo”

Sebelum beliau menikah banyak agama yang dianutnya salah satunya adalah kepercayaan pada ajaran Saptodharmo yang berarti sapto “bicara” dharmo “membeberkan ajaran”, dimana ibu sri pawengan dianggap sebagai guru pada ajaran ini, beliau percaya pada pemimpinya sehingga menyembahnya. Ibu sri pawenang adalah seseorang yang tidak menikah selama dua tahun yang dianggap suci, berasal dari daerah Wetan. Ajaran saptodharmo menggunakan bahasa jawa dan kitab sucinya menggunakan tulisan jawa, posisi pada saat melaksankan ritual menghadap ke arah barat atau dalam bahasa jawa menghapap ke arah kulion. Bapak Sastro menganut ajaran ini karena mengikuti dari keluarganya dan di derahnya banyak yang mengikuti ajaran ini dan mereka mempunyai wadah dan organisasi yang menghimpun ajaran ini. Bapak Sastro juga tidak tahu jelas tentang gambaran guru dari ajaran yang dianutnya karena belum pernah melihat dengan jelas dan hanya tahu dari cerita orang tuanya yang mereka gambarakan seseorang perempuan.

Pada saat itu tempat ibadahnya di tempat bapak Kadus (kepala dusun) sembahyang dilaksanakan setiap pagi dan sore. Bapak Sastro bercerita tentang cara sembayang pada ajaran ini yaitu ada proses sujud, semedhi, racut (tidur tapi tidak sadar) saat sedang melaksanakan ini tidak ada yang boleh mengganggu dan saat racut ini posisinya terlentang, ada juga tahajut malam, ada wejangan juga dari para sesepuh, ada juga yasinan atau kumpul-kumpul dengan umat dan posisi saat sembahyang adalah searah. Tempat mereka beribadah memberi nama Sanggar. Kalau saya lihat pada ajaran ini ada kombinasi antara budaya jawa dan agama Islam dan Buddha juga, yang  saat itu memang sudah mulai masuk  dua agama yang ke daerah Wonoharjo yaitu Buddha dan Islam.

Lebih lanjut Bapak Sastro menjelaskan pada praktek ritualnya tentang semedhi seperti meditasi yang lama hingga terasa getaran pada punggung, kepala, mengamati rasa pada tubuh dari punggung hingga kepala semua getaran dirasakan. Semedhi sama dengan mengheningkan cipta, posisinya kaki bersila dan posisi tangan memegang perut dan pelan-pelan kepala menunduk hingga ke lantai merasakan kesakitan pada kepala hingga punggung. Kadang ada juga yang semedhi atau tapa di sungai yang bertujuan untuk meminta harapan dan keinginan supaya tercapai dan lancar. Racut (tidur tetapi tidak sadar) yang dapat melaksanakan ini adalah seseorang yang sudah ahli mengerti 1sajerone wong mati dan dapat berbicara 2badan alus, orang itu juga tahu kapan dia akan mati, posisi rajut adalah terlentang.

 

 

1dapat merasakan seperti orang yang sudah meninggal tetapi dia memiliki kesadaran.

2dapat berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal.

Menurut Bapak Sastro saat itu sudah mulai muncul agama, yang mana di Negara setiap orang diwajibkan untuk memeluk agama dari lima agama yang diakui oleh Negara sesuai kepercayaan masing-masing maka dari itu Bapak Sastro meningalkan kepercayaan. Tempat sanggar yang menjadi tempat kegiatan sekarang sudah menjadi rumah tua karena sudah tidak dipergunakan lagi. Dari agama kepercayaan Bapak Sastro sudah mempraktekan meditasi dengan cara kejawen karena faktor dari lingkungan yang pada saat itu masih sangat kental banyak orang yang mencari ilmu dengan puasa salah satunya adalah 3puasa pati geni yang saya bilang puasa ekstrim. Dari tempat tinggal juga yang masih pedesaan dekat hutan, sungai dan tempat-tempat yang dianggap keramat dan sepi yang mendukung prasarana untuk melaksanakan meditasi. Dari hal ini sejak dulu dan dimanapun untuk konsentrasi memang membutuhkan ketenangan dan keadaan fisik maupun batinya.

Mulai memeluk Agama Buddha

Sekitar tahun 1980 bapak Sastro mulai memeluk Agama Buddha itu disebabkan karena menikah dengan Ibu Wasiati yang memang beragama Buddha sedangkan Bapak Sastro beragama Islam , karena perbedaan agama maka Bapak Sastro mengalah yang pindah agama. Bapak Sastro setelah menikah tidak tahu sedikitpun tentang Ajaran Buddha dan tidak ada keyakinan pada dirinya, dengan bermodalkan belajar dari sang istri dan sering puja bakti di vihara, mendengarkan dhammadesana dari sesepuh dengan segala keterbatasan pada sumber daya manusia dan pelengkapan buku-buku yang masih minim, lamabat laut mulai mengerti dan tertarik dengan agama Buddha yang dirasanya ajaran Buddha sesuai dengan keadaan 4ning alam dunyo umat Buddha juga tidak dipaksa-paksa untuk melakukan kebajikan tetapi timbul dari kesadarannya sendiri. Sekitar 10 tahun setelah menikah Bapak Sastro mulai belajar dan memahami dengan ajaran Buddha hingga saat ini.

 

 

3orang berpuasa selama 7 hari di dalam gerobak yang tertutup rapat tanpa makan tidak boleh terkena cahaya.

4sesuai dengan kenyataan atau kebenaran yang ada di dunia.

Faktor yang menyebabkan Bapak Sastro karena para masyarakat juga pada pindah ke agama lain. Faktor pernikahan beda agama juga menjadi penyebab berkurangnya umat Buddha di desa Wonoharjo. Dari sini terlihat bahwa agama Buddha waktu itu kurang pondasi pada sistem pengajaran. Dulu waktu belum ada Vihara para umat melaksanakan Puja Bhakti setiap malam minggu di rumah umat yang dianggap tertua atau senior, sekitar tiga puluh kepala keluarga yang memeluk agama Buddha tetapi karena faktor di atas tadi sekarang tinggal lima belas kepala keluarga yang masih bertahan padahal sudah dibangun Vihara yang tidak terlalu besar tapi lebih baik.

Kira-kira sudah empat tahun Bapak Sastro menjadi Ketua Vihara Buddha Dhamma Dharo di Sawangan, Wonoharjo ini menambah keyakinan pada bapak Sastro pada agama Buddha dan makin banyak mengikuti kegiatan-kagiatan yang diadakan di Kab. Kebumen yang menjadi tanggung jawab dan pembelajaran pada dirinya pribadi. Sekarang beliau sudah mulai aktif di Vihara sering dhammadesana dan apabila ada perkumpulan di luar menjadi perwakilan dan menyampaikan apa yang didapatnya kepada umat.

Pandangan Meditasi menurut Bapak Sastro

Dalam agama kepercayaan juga ada yang namanya meditasi atau semedhi. Meditasi menurut beliau yaitu duduk bersila, tangan seperti Rupang Buddha dan mata dipejamkan dalam pikiran mengucap dalam batin “sabbe satta bhavantu sukkhitata, semoga semua makhluk berbahagia” secara terus menerus atau yang dikatakan adalah meditasi cinta kasih yang memang saat puja bakti pemimpin mengatakan seperti itu dan beliau juga ingat perkataan dari Bhante juga seperti itu gambarannya. Saat meditasi selain mendo’akan semua mahkluk juga mendo’akan keluarga, leluhur yang sudah meninggal semoga terlahir dialam yang berbahagia, anak semoga mendapat pekerjaan yang baik. Perinsip beliau “ngagemi ibarat dewean atau ageman dirumat apa ajapane dijodoni ben bagus hasilepun sae” yaitu dengan rajin puja bakti atau sembahyang, sering pertemuan dengan umat lain melakukan kegiatan sehingga merasa dekat dengan umat yang lain (pengalaman), jodone melakukan puja bakti, berdana, dana khatina, kalau sudah bisa danalah dhamma, dana dunia (tenaga, pikiran). Apabila berdana semoga mendapatkan berkah dari Sang Triratna.

Faktor yang dirasakan beliau dari sering melaksanakan meditasi antara lain menjadi tambah percaya pada Buddha Dhamma dengan meditasi ternyata dapat membuat Bapak Sastro timbul keyakinan dari seringnya melaksanakan puja bakti setiap malam minggu di Vihara dan di rumah setiap pagi dan sore, pola pikir menjadi berkembang terhadap pengertian ajaran Buddha dengan banyaknya kegiatan yang dilakukan dan buku-buku yang dibacanya terbukti dengan sudah mulai berdammadesana meski belum lancar, mengembangkan cinta kasih pada semua makhluk saat meditasi, kesabaran menenangkan orang lain sehingga menjadi sabar dengan melaksanakan meditasi diharapakan orang lain juga dapat meengendalikan pikiran, ucapan dan perbuatan tidak terburu-buru dalam bertindak, tidak ada kekerasan karena telah mengerti ajaran dengan baik dan benar dari ajaran Buddha yang mengajarkan konsep cinta kasih yang umum sehingga umat Buddha dapat hidup tentaram dengan orang-orang disekelilingnya, semoga kelak dapat mencapai penerangan dengan melakukan kebajikan dan mempraktekan Buddha Dhamma beliau juga memiliki motivasi seperti Buddha dan para siswanya yang telah membebaskan samsara. Dari pernyataan Bapak Sastro setelah melaksanakan meditasi pikiran menjadi tenang dan emosi dapat dikendalikan membuktikan bahwa dalam pelaksanaan meditasi beliau dapat mengaplikasikan atau merasakan hasil dari pelaksanan meditasi yang dilayihnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dari wawancara yang saya lakukan selama dua kali di rumah bapak Sastro masih kurang mengerti apa yang dimaksud dengan meditasi buddhis karena kenyataannya dalam prakteknya masih ada permohonan atau harapan-harapan pada sesuatu dari beliau hanya tahu meditasi metta bahavana saja yang dipakai dalam praktek sehari-hari. Tapi disini saya kagum pada beliau meski belum lama mengenal Buddha Dhamma tapi beliau memiliki semangat yang tinggi tetap giat melakukan hal-hal yang positif (berdana, bakti sosial, donor darah, dsb) untuk memajukan Vihara yang sederhana dengan keadaan umat yang minim. Dari pengamatan saya yang membuat Bapak Sastro semangat adalah faktor dari umatnya sendiri jika umat rajin puja bakti dan aktif mengikuti kegiatan, ini menimbulkan semangat pada dirinya, jika ada dhammaduta juga banyak lebih aktif mengambil ilmu yang membawa wawasan dan pengalaman.

Dari pendapat Bapak Sastro meditasi memang penting tapi di dalam pelaksanaannya masih ada harapan, jadi meditasi digunakan sebagai media untuk mengungkapkan harapanya, dari latar belakang Bapak Sastro masih berpandangan pada kepercayaan yang pernah dianut beliau jadi harapan masih melekat padanya. Padahal dalam Buddhis meditasi bukan hanya duduk diam dan seperti Sang Buddha dan mengharapakan imbalan dari perbuatan baik yang diikuti tanpa pamrih, Bapak Sastro sebenarnya telah melakukan meditasi dengan obyek Samatha Bhavana yaitu Metta Bhavana yang dilakukan saat meditasi dengan memancarkan cinta kasih kepada makhluk lain, dan disini Bapak sastro memiliki watak “Saddha-carita yaitu watak yang mudah percaya, tidak memiliki keteguhan hati dan mudah percaya dengan orang lain tanpa mempertimbangkan dan menyelidiki terlebih dahulu” (Diputhera, 2001:64). Jadi Bapak sastro orang yang memiliki saddha-carita melaksanakan sesuatu berdasarkan keyakinan yang dilihatnya tanpa membuktikan dan menyelidiki terlebih dahulu, jujur, suka mendengarkan orang yang lebih tua yakin dengan ucapannya yang dianggap baik. Bapak Sastro selain dapat mempraktekan meditasi Metta, beliau juga dapat melaksanakan Samatha Bhavana dengan “obyek enam Anussati (perenungan), Buddhanusati, Dhammanusati, Sanghanusati, Silanusati, Caganusati dan Devatanussati. (Diputhera, 2001:68-69). Bapak Sastro dapat merenungkan kebajikan dan sifat-sifat mulia Sang Buddha, perenungan ini tidak terbatas dalam prakteknya Bapak Sastro merenungkan “kesucian dan kesempurnaan Sang Buddha penunjuk jalan yang baik bagi semua makhluk, merenungkan kebijaksanan yang luhur serta sempurna pengetahuan serta tindak tanduknya, merenungkan mahakaruna dari Sang Buddha rasa welas asihnya kepada semua makluk yang telah menunjukkan jalan menuju pembebasan samsara”. Jadi Bapak Sastro dapat merenungkan obyek dari anusati untuk lebih mengurangi keyakinannya pada orang lain tanpa didasari pengetahuan sehingga dapat berpikir realistis dan menyelidiki apa yang ada disekelilingnya.

Dengan melaksanakan meditasi Metta Bhavana Bapak Sastro telah menujukkan “perasaan yang bertujuan baik rasa persaudaraan cinta yang tidak terbatas bebas dari nafsu kemelekatan” (Guttadhamo, 2006:211) beliau mengharapakan kebahagian makhluk-makhluk lain tanpa terkecuali yang tanpa kebencian sebab beliau memandang orang lain juga sama dengan dirinya jika saya merasakan kebahagiaan pasti timbul rasa senang dan sebaliknya jika susah akan timbul penderitaan, ada kemurahan hati dan kemauan baik pada dirinya. Cara mengubah pikiran atau keyakinan-keyakinan “mengembangkan cara berpikir yang diperoleh hasil belajar lewat orang lain, mengembangkan pikiran dan perenungan dari ajaran-ajaran yang telah diperoleh, melaksanakan meditasi” (Chandra, 2007:42), dengan membaca buku dan mendengarkan ajaran atau khotbah dari orang lain dapat member motivasi bahwa ajaran yang diperoleh diperaktekan dengan benar membawa manfaat dan sesuai dengan kenyataan, dengan melaksanakan meditasi dapat merubah keyakinan, sehingga pengertian tentang corak ketidak-kekalan akan dipahaminya dengan meditasi dapat mengubah pikiran yang dapat memahami keyakinan-keyakinan yang salah misalnya: keyakinan pada ritual yang membawa kebahagian dan kekuatan, membawa keselamatan dengan sering meditasi dan dilindungi oleh Tuhan. Intinya mengetahui dengan benar bahwa keadaan ini adalah Tilakkhana dan menjalani dengan apa adanya.

Bapak Sastro untuk memahami meditasi Vipassana terlebih dahulu memahami Samatha Bhavana terus perlahan-lahan mencoba mempraktekan Vipassana. Penulis merasa beliau dapat melatih meditasi Anapanasati (memperhatikan keluar masuknya nafas) ini mungkin lebih mudah untuk dilakukan Bapak Sastro sebagai pemula dalam Vipassana dengan memperhatikan nafas yang masuk dan keluar dari hidung dengan memperhatikan proses nafas sehingga timbul perhatian pada nafas mengamati setiap pergerakan nafas yang masuk dan keluar. Dengan melaksanakan meditasi ini Bapak Sastro dapat melihat keadaan ini apa adanya jadi tidak selalu terbawa pada pengalaman kepercayaan, dan dapat mengerti seuntuhnya apa yang sedang dirasakannya saat itu dari pelaksanaan meditasi, seseorang memiliki harapan dan keinginan adalah wajar karena masih diliputi tanha dan moha, adat juga tidak dapat di campur adukan dengan agama, karena dari masing-masing orang memiliki pandangan yang berbeda. Pada intinya siapa yang melakukan kebaikan akan menghasilkan kebaikan dan sebaliknya.

3.    KESIMPULAN

Dari wawancara saya dari Bapak Sastro ternyata banyak faktor yang mempengaruhi keyakinan yang berdampak pada pemahaman meditasi pada Bapak Sastro, dan untuk mengembangkan pandangannya sangat sulit tetapi jika ingin belajar dan mencoba dengan semangat secara berulang-ulang akan memahaminya, di sini diperlukan orang yang membimbing dan sebagai motor penggeraknya. Yang penulis tanya bukan hanya Bapak sastro saja tentang pelaksanaan meditasi, dan dari bebrapa survai yang penulis tanyakan ternyata sebagian besar masyarakat memiliki pandangan sama seperti Bapak Sastro dan pertanyaannya kenapa begitu? menurut penulis karena pertama dari tradisi keluarga, lingkungan, gengsi jika berdiri tanpa teman, takut akan gunjingan dari orang lain, ini menjadi PR bagi para penyuluh ataupun mahasiswa yang mendalami agama Buddha memberikan motivasi dan menyalurkan hal yang kita pelajari untuk menambah wawasan dan pengetahuan mereka.

Referensi:

– Chandra, Johny. 2007. Pejuang Batin. Surakarta: Vihara Dhamma Sundara.

– Guttadhamo. 2006. Kammatthana (obyek-obyek perenungan dalam meditasi). Semarang: Vihara Tanah Putih.

–  Diputhera, Oka. 2001. Meditasi II. Jakarta: Vajra Dharma Nusantara.

 

Komentar
  1. buddhis mengatakan:

    Salut buat adikku tercinta, ternyata kamu punya bakat yg terpendam untuk menjadi penulis dan penerus Dhamma,,,,, lanjutkan bakatmu pasti bisa kami selalu mendukungmu. BBU,,,,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s