JHANA dan NIVARANA

Posted: Maret 16, 2012 in Samadhi

By       : Partiwi, Supriyatun          


ARTI JHANA

  1. Jhana berarti kesadaran atau pikiran yang memusat dan melekat kuat pada obyek kammatthana atau meditasi, yaitu kesadaran atau pikiran terkonsentrasi pada obyek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap, yaitu kesadaran atau pikiran terkonsentrasi pada obyek yang kuat).
  2. Jhana hanya mampu menekan atau mengendapkan kekotoran batin untuk sementara waktu. Ia tidak dapat melenyapkan kekotoran batin. Sewaktu-waktu jhana dapat merosot.

FAKTOR-FAKTOR JHANA

  1. Vitakka, ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang obyek.
  2. Vicara, ialah keadaan pikiran dalam memegang obyek dengan kuat.
  3. Piti, ialah kegiuran atau kenikmatan.
  4. Sukha, ialah kebahagiaan yang tak terhingga.
  5. Ekaggata, ialah pemusatan pikiran yang kuat.

Tingkatan jhana, menurut Abhidhamma, terdiri atas:

  1. Pathama-Jhana, ialah jhana tingkat pertama. Keadaan batinnya terdiri dari lima corak, yaitu vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  2. Dutiya-Jhana, ialah jhana tingkat kedua. Keadaan batinnya terdiri dari empat corak, yaitu vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  3. Tatiya-Jhana, ialah jhana tingkat ketiga. Keadaan batinnya terdiri dari tiga corak, yaitu, piti, sukha, dan ekaggata.
  4. Catuttha-Jhana, ialah jhana tingkat keempat. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak, yaitu sukha dan ekagata.
  5. Pancama-Jhana, ialah jhana tingkat kelima. Keadaan batinnya terdiri dari dua corak, yaitu upekkha dan ekaggata.
  6. Akasanancayatana-Jhana, ialah keadaan dari konsepsi ruangan yang tanpa batas.
  7. Viññanancayatana-Jhana, ialah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tak terbatas.
  8. Akincaññayatana-Jhana, ialah keadaan dari konsepsi kekosongan.
  9. Nevasaññanasaññayatana-Jhana, ialah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan.

Tingkatan jhana, menurut Sutta Pitaka, terdiri atas :

  1. Rupa jhana
  1. Pathama-Jhana, ialah jhana tingkat pertama, dimana nivarana telah dapat diatasi dengan seksama. Faktor-faktor jhana yang timbul adalah vitakka, vicara, piti, sukha, dan ekaggata.
  2. Dutiya-Jhana, ialah jhana tingkat kedua, dimana vitakka dan vicara mulai lenyap, karena kedua faktor ini bersifat kasar untuk jhana kedua. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah piti, sukha, dan ekaggata.
  3. Tatiya-Jhana, ialah jhana tingkat ketiga, dimana piti mulai lenyap, karena piti ini masih terasa kasar untuk jhana ketiga. Faktor-faktor jhana yang masih ada adalah sukha dan ekaggata.
  4. Catuttha-Jhana, ialah jhana tingkat keempat, dimana sukha mulai lenyap, karena faktor ini masih terasa kasar untuk jhana keempat. Di dalam jhana keempat ini hanya ada faktor ekaggata dan ditambah dengan upekkha.
  5. Akasanancayatana-Jhana adalah keadaan konsepsi ruang tanpa batas.
  6. Viññanancayatana-Jhana adalah keadaan dari konsepsi kesadaran yang tanpa batas.
  7. Akincaññayatana-Jhana adalah keadaan dari konsepsi kekosongan.
  8. Nevasaññanasaññayatana-Jhana adalah keadaan dari konsepsi bukan pencerapan pun tidak bukan pencerapan.
  1. Arupa jhana

 

 

A. Obyek yang dapat mencapai jhana:

  1. 10 Kasina
  2. 10 Asubha
  3. Satu Kayagatasati dan Anapanasati
  4. Empat Appamanna
  5. Satu Aharapatikulasanna (satu perenungan terhadap makanan yang menjijikan)
  6. Satu Catudhatuvavatthana
  7. Empat Arupa (empat perenungan tanpa materi)

B. Obyek yang tidak bisa mencapai jhana:

  1. 8 Anussati

Nivarana

Nivarana berarti rintangan atau penghalang batin yang selalu menghambat perkembangan pikiran.

Macam-macam nivarana

  1. Kamachanda (nafsu-nafsu keinginan)
  2. Byapada (kemauan jahat)
  3. Thina-middha (kemalasan dan kelelahan)
  4. Uddhacca-kukkucca (kegelisahan dan kekhawatiran)
  5. Vicikiccha (keragu-raguan)

Hubungan jhana dan nivarana

  1. Vitakka menekan thinamida
  2. Vicara menekan vicikiccha
  3. Piti menekan byapada
  4. Sukha menekan uddhacca kukucca
  5. Ekaggata menekan kamachanda

 

 

 

Kesimpulan

Pencapaian jhana bisa dicapai dengan obyek meditasi tetapi tidak semuanya karena ada obyek-obyek yang tidak bisa mencapai jhana. Apabila faktor-faktor jhana dapat menekan nivarana maka bisa mencapai jhana sesuai dengan tingkatan-tingkatan jhana itu sendiri.

Referensi :

  • Diputera, Oka. 2004. Meditasi. Jakarta: Vajra Dharma Nusantara.
  • Kaharudin, Pandit. 1991. Abhidhammatasangaha. Jakarta Pusat: Cv.Nitra Kencana Buana.
  • Sayadaw, Mahasi. 2001. Purpose Of Practising Kamatthana Meditation.Jakarta.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s