Review 4

Posted: Maret 10, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

Book Review 4

Nama   : Dwi Astuti                                                                Makul  : Teknik Penulisan Ilmiah

Nim     : 09.1.169                                                                    Dosen  : Waluyo, M. Pd

KENCANTIKAN DALAM BUDDHISME

Semua orang menyukai keindahan (kecantikan), seperti halnya seorang pria yang menginginkan memandang wanita yang cantik dan seorang wanita yang menyukai pria yang tampan. Keadaan ini menjadikan kepuasan dan kesenangan akan keindahan, keindahan yang terdapat dalam kecantikan atau ketampanan seseorang hanyalah keindahan yang dari luar (eksternal) mudah dilihat dan dinilai oleh semua orang, keindahan dari dalam sulit untuk dilihat dan menurut Buddhisme keindahan bukan hanya dari luar atau jasmani tetapi dari dalam yaitu moralitas atau spiritual. Menurut KBBI (2000:193) kecantikan adalah keelokan (tata wajah muka), kemolekan. Keindahan adalah sifat-sifat (keadaan dan sebagainya) yang indah, keelokan alam Indonesia (KBBI, 2000:429). Kecantikan merupakan keelokan dari berbagai objek seperti penampilan dan cara bersikap seseorang. Kecantikan adalah kenikmatan visual dari orang, binatang, objek atau adegan, dan juga kenikmatan suara, musik yang memberikan kesenangan indera. Kenimkatan visual dari mata, memandang yang indah atau cantik menimbulkan ketertaikan untuk melihat dan memandang, anjing yang lucu menarik perhatian untuk memegang. Seseorang mendengar suara artis laki-laki  yang menyanyi saat konser, dengan suara yang merdu menyebabkan seseorang menikmati suara dan musik yang mengiringi, indera mata melihat artis laki-laki dan telinga mendengar merasakan kenikmatan dari musik.

Agama Buddha memandang bahwa kecantikan itu ada dua jenis yaitu kecantikan eksternal (fisik) dan kecantikan moral atau spiritual. Kecantikan luar adalah kecantikan dari tubuh yang dapat dilihat secara langsung oleh alat indera. Kecantikan luar atau fisik yang menyebabkan kemelekatan seseorang, seperti wajah yang cantik atau tampan.  Indera mata melihat perempuan yang cantik dengan menggunakan baju adat jawa, tangan memegang pipi yang halus dan mulus. Kecantikan luar menimbulkan kemelekatan yang menjadikan seseorang melakukan berulang-ulang untuk mengkonsumsi atau menggunakan dan menjadi kebiasaan yang harus dilakukan contoh, perempuan menggunakan bedak wajah untuk memutihkan wajah dan membuat halus jika tidak memakai bedak kulit akan terasa kering, ini membuat ketagihan untuk selalu memakai. Laki-laki menggunakan minyak rambut jika tidak memakai kurang percaya diri. Menggunakan barang yang berlebihan dan menjadi kewajiban yang menimbulkan kemelekatan.

Kecantikan moral atau spiritual adalah kecantikan yang sulit dilihat secara langsung misal, karakter yang baik, tidak menebar kebencian. Karakter yang baik tidak pasti karena selalu berubah-ubah (anicca), menanamkan metta atau cinta kasih tidak pasti pikiran dapat berubah setiap detik. Jika mengembangkan pengalaman spiritual, melatih sila, samadhi dan panna dalam Buddhisme akan mampu melepaskan seseorang dari materi duniawi seperti kekayaan, harta, jabatan, keindahan tubuh dapat memahami bahwa kecantikan fisik bukan yang paling mewah.

Puncak dari proses spiritual yaitu terlepas dari dunia, hal yang bersifat duniawi dengan berpengetahuan penuh tentang dunia, mengetahui hidup yang sebenarnya. Dunia tidak abadi akan mengalami perubahan (anicca), segala yang dimiliki akan mengalami perubahan dan sulit untuk dipertahankan. Kecantikan utama menurut agama Buddha adalah aspirasi dari menjalani hidup suci, melatih moral yang sesuai dengan ajaran dhamma melaksanakan pancasila buddhis (5 aturan moral) dasar umat awam atau upasaka/upasika, dasasila, athasila dan Vinaya 277 peraturan moral yang dilaksanakan para bhikkhu, lima aturan moral tidak membunuh makhluk hidup untuk melestarikan kehidupan binatang, tidak mencuri atau mengambil barang orang lain untuk melatih agar tidak serakah, tidak berbuat asusila melatih mengendalikan nafsu indera, tidak berbohong untuk melatih kejujuran dan tidak minum-minuman keras yang dapat melemahkan kesadaran. Kecantikan dalam diri untuk biarawan yang tidak dalam mengejar kenikmatan sensual, hutan dengan flora dan fauna adalah penginapan yang menyenangkan, dalam Theragatha dan Therigatha mengucapankan yang dibuat oleh para biarawan dan biarawati dalam memuji alam sekitarnya di hutan yang menghabiskan sebagian besar hidup di hutan. Kecantikan luar bisa disebut samutthi sacca karena kecantikan luar itu bersifat duniawi dan bersifat relatif dan  kecantikan dari dalam disebut paramatha sacca karena bersifat mutlak.

Kecantikan dalam agama Buddha adalah kecantikan luar atau fisik dan kecantikan moral (spiritual), dalam hal ini kecantikan yang utama adalah kecantikan moral karena akan membawa seseorang pada ketidakmelekatan. Seseorang yang memiliki moral yang baik akan memiliki bekal untuk mendapatkan hasil yang baik pula yaitu kebahagiaan. Kecantikan moral dapat dilatih dengan berbagai hal seperti belajar, mencari pengetahuan, berlatih meditasi obyek asubha (hal-hal yang menjijikkan) untuk melatih tidak bersikap sombong, tidak membanggakan wajah tampan atau cantik.

 

Referensi:

  • Tim Penyusun. 2000. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Malalasekera. 1985. Encyclopaedia Of Buddhism. London

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s