MAJJHIMA NIKAYA CANKī SUTTA (Dengan Cankī)

Posted: Maret 10, 2012 in Sutta Pitaka
Oleh: Dwi Astuti
 
  1. A.    Latar belakang

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berkelana di negri Kosala dengan sejumlah besar Sangha para bhikkhu, dan akhirnya beliau tiba di desa Opasāda. disana Sang Buddha berdiam di hutan para dewa, hutan pohon sala di utara Opasāda. Pada saat itu brahmana Cankī sedang berkuasa di  Opasāda, pemilik harta kerajaan yang berlimpah anugrah dari raja Pasendi dari Kosala. Kemudian para perumah tangga brahmana dari Opasāda berangkat berkelompok dan bergerombol dan menuju ke utara hutan para dewa, hutan pohon sala. Berkenaan dengan brahmana Cankī yang hendak mengunjungi Buddha tetapi dilarang oleh brahmana lain karena Cankī dianggap memiliki keunggulan yang lebih dari Buddha. Tetap brhmana Cankī tetap mengunjungi Buddha karena Buddha memang pantas untuk dikunjungi.

 

  1. B.     Inti  Sutta

Pada saat itu, di dalam perkumpulan itu ada seorang siswa brahmana yang bernama Kāpaṭhika yang masih muda dia adalah pakar Tiga Veda. Brahmana Kāpaṭhika terlibat diskusi dengan Buddha tentang tiga veda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi dalam tradisi yang tidak terputus, tradisi yang oleh brahmana dipercaya sebagai satu-satunya.

 

  1. C.    Isi Sutta

Para brahmana menghormati tradisi lisan bukan berdasarkan keyakinan tetapi berdasrkan tradisi lisan. Ada lima hal, Bharadvaja, yang bisa dihasikan dengan dua cara di sini dan kini yaitu: keyakinan, persetujuan, tradisi lisan, pemikiran yang dinalarkan, dan penerimaan reflektif tentang suatu pandangan. Digambarkan oleh Buddha seorang bhikkhu yang melestarikan kebenaran dhamma, seorang bhikkhu yang tinggal di desa atau kota dan seorang perumah tangga atau umat awam datang mengetahui tentang tiga kondisi yang tidak didasari keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin yang dilakukan dari perilaku tubuh, ucapan, dan pikiran maka dengan ini ia menemukan penemuan kebenaran.

  • Apa paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran?

Jika orang tidak berjuang, dia akhirnya tidak akan sampai pada kebenaran; tetapi karena dia berjuang, dia akhirnya pun sampai pada kebenaran. Itulah sebabnya perjuangan adalah yang paling membantu untuk pencapaian akhir pada kebenaran.

  • Apa yang paling membantu untuk perjungan?

Jika orang tidak mengamati dengan cermat dia tidak akan berjuang; tetapi karena dia mengamati dengan cermat, dia pun berjuang. Itulah sebabnya pengamatan yang cermat adalah yang paling membantu untuk perjuangan.

  • Apa yang membantu pengamatan yang cermat?

Jika orang tidak menerapkan kemauannya , dia tidak akan mengamati dengan cermat; tetapi karena dia menerapkan kemauannya, dia pun mengamati dengan cermat. Itulah sebabnya penerapan kemauan adalah yang paling membantu untuk pengamatan yang cermat.

  • Apa yang membantu penerapan kemauan?

Jika orang tidak menggugah semangat, dia tidak akan menerapkan kemauannya; tetapi karena ia menggugah semangat, dia pun menerapkan kemauannya. Itulah sebabnya semangat adalah yang paling membantu untuk penerapan kemauan.

  • Apa yang paling membantu untuk semangat?

Jika orang tidak memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran, semangat tidak akan muncul; tetapi karena dia memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran, semangat pun muncul. Itulah sebabnya penerimaan pada ajaran-ajaran adalah yang paling membantu untuk semangat.

  • Apa yang paling membantu untuk penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran?

Jika orang tidak memeriksa artinya, dia tidak akan memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran; tetapi karena orang memeriksa artinya, dia pun memperoleh penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran.Itulah sebabnya pemeriksaan arti adalah yang paling membantu untuk penerimaan reflektif tentang ajaran-ajaran.

  • Apa yang paling membantu untuk memeriksa?

Jika orang tidak mengingat ajaran, dia tidak akan memeriksa artinya; tetapi karena orang mengingat ajaran, dia pun memeriksa artinya.

  • Apa yang paling membantu untuk mengingat ajaran?

Jika orang tidak mendengar Dhamma, dia tidak akan mengingat ajaran; tetapi karena orang mendengar Dhamma dia pun mengingat ajaran. Itulah sebabnya mendengar Dhamma adalah yang paling membantu untuk mengingat ajaran.

  • Apa yang paling membantu untuk mendengar dhamma?

Jika orang tidak menghormat, dia tidak akan membuka telinga; tetapi karena dia menghormat, dia pun membuka telinga. Itulah sebabnya menghormat adalah yang paling membantu untuk membuka telinga.

  • Apa yang paling membantu untuk menghormat?

Jika orang tidak mengunjungi guru, dia tidak akan menghormat guru; tetapi karena dia mengunjungi guru, dia menghormat guru itu. Itulah sebabnya mengunjungi adalah yang paling membantu untuk menghormat.

 

  1. D.    Pesan moral

Hendaknya kita dalam menerima sesuatu Ehipassiko “datang dan buktikan” bukan hanya menerima begitu saja tanpa tahu dasarnya.

 

Referensi:

  • Tim Penyusun. 2000. Panduan Tipitaka. Klaten: Vihara Bodhivamsa.
  • Tim Penyusun. 2008. Majjhima Nikaya 5. Klaten: Vihara Bodhivamsa Wisma Dhammaguna.

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s