Mahadukkhakkhandha Sutta

Posted: Maret 10, 2012 in Sutta Pitaka

Oleh:  Sudiyati 09.1.179

Latar Belakang

Mahadukkhakkhandha sutta dibabarkan kepada para Bihhku ketika sang Bhagava sedang berdiam di Savatthi, di hutan Jeta, Taman Anathapindika. Dalam sutta ini menjelaskan tentang khotbah besar mengenai penderitaan.

Isi Sutta

Tathaghata menjelaskan kepada pada bhikkhu tentang kesenangan indera, menjelaskan tentang bentuk materi dan menjelaskan tentang perasaan. Dari ketiga hal tersebut mencakup apa yang menjadi pemuasannya, apa bahayanya dan apa jalan keluar dalam hal kesenangan indera, bentuk materi dan dalam hal perasaan.

  1. Kesenangan Indera
  • Pemuasan dalam hal kesenangan indera adalimabentuk.Limabentuk tersebut berasal darilimalandasan indera yaitu; mata, telinga, hidung, lidah dan kulit atau tubuh. Semua yang diharapkan, yang menyenangkan dan disukai, yang berhubungan dengan nafsu indera dan menimbulkan keserakahan. Dari kesenangan dan sukacita yang muncul merupakan pemuasan kesenangan indera.
  • Bahaya dalam kesenangan indera seperti; seseorang yang merasa sedih karena harta bendanya habis akibat ulahnya sendiri. Ini merupakan bahaya dalam hal kesenangan indera.
  • Jalan keluar dalam hal kesenangan indera dengan meninggalkan nafsu dan keserakahan yang muncul dari kesenangan indera.
  1. Bentuk Materi
  • Pemuasan dalam bentuk materi seperti kesenangan dan sukacita yang muncul terhadap apa yang terjadi dalam tubuh (kecantikan dan keelokkan).
  • Bahaya dalam hal bentuk materi seperti; semua ynag terjadi dalam tubuh akan mengalami perubahan. Dari yang awalnya cantik berubah menjadi tua, sakit dan mati. Dari proses tersebut bahaya dari bentuk materi akan tampak jelas.
  • Jalan keluar dalam hal bentuk materi dengan meninggalkan dan menghapus nafsu keinginan dan nafsu keserakahan.
  1. Perasaan
  • Pemuasan dalam hal perasaan seperti perasaan yang muncul dari kesenangan indera dan bentuk materi.
  • Bahaya dalam hal perasaan. Perasaan adalah tidak kekal yang selalu mengalami perubahan.
  • Jalan keluar dalam hal perasaan dengan meninggalkan nafsu keinginan dan nafsu keserakahan.

Bagi petapa dan para brahma yang tidak memahami sebagaimana adanya pemuasan sebagai pemuasan, bahaya sebagai bahaya, dan jalan keluar sebagai jalan keluar dalam hal perasaan, itu bisa sepenuhnya memahami perasaan atau bisa mengajar orang lain sehingga orang tersebut dapat sepenuhnya memahami perasaan maka hal tersebut adalah tidak mungkin dan sebaliknya.

Pesan moral

Sebagai siswa sang Buddha jangan terlalu melekat pada apa yang sedang terjadi dalam diri yang membuat kesenangan indera sebab akan dapat menimbulkan kesengsaraan atau penderitaan. Langkah yang paling utama atau jalan keluar yaitu dengan memahami Tilakkhana.

 

Referensi:

———. 2004. Majjhima Nikaya I. Klaten: Vihara Boddhivamsa.

——–. 2000. Panduan Tipitaka. Klaten: Vihara Boddhivamsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s