Lima perenungan bagi setiap orang

Posted: Maret 10, 2012 in Sutta Pitaka

Oleh    : Dwi susanto

Suprapti

Yudiyono

Yuliastuti

1. Ada 5 perenungan yang harus dipraktekkan oleh setiap orang atau oleh siapapun, baik bhikkhu atau umat awam, pria ataupun wanita. Apakah yang lima itu?

  • Aku pasti menjadi tua. Aku tidak dapat menghindari ketuaan.
  • Aku pasti menderita penyakit. Aku tidak dapat menghindari penyakit.
  • Aku pasti mati. Aku tidak dapat menghindari kematian.
  • Segala yang kucintai dan kusenangi tidak akan bertahan. Mereka akan berubah dan terpisah dariku.
  • Aku adalah pemilik perbuatan- perbuatanku sendiri, Pewaris perbuatan-perbuatanku sendiri, Apapun perbuatan yang akan aku lakukan baik atau buruk maka perbuatan irulah yang akan aku warisi.
  1. Ada 5 standar yang harus ditetapkan untuk mengajarkan Dhamma yaitu :

Lima standar yang ditetapkan untuk mengajar dhamma ini pertama kali disampaikan oleh Sang Buddha pada saat Sang Buddha berdiam di Kosambi, di Vihara Ghosita, YM Ananda yang melihat YM Udayi sedang duduk di tengah banyak umat awam dan mengajarkan Dhamma. Setelah melihat itu YM Ananda menghadap Yang Terberkahi dan melaporkan hal itu. Sang Buddha pun menjelaskan bahwa tidak mudah mengajarkan Dhamma kepada orang-orang lain. Kerika mengajarkan Dhamma kepada orang lain, orang seharusnya membangun lima standar didalam dirinya sendiri. Ke lima standar tersebut yaitu:

  • Dhamma harus diajarkan dalam khotbah-khotbah yang bertahap kelasnya.
  • Dhamma harus diberikan sebagai khotbah yang masuk akal.
  • Dhamma harus diberikan karena kasih sayang dan simpati.
  • Dhamma harus diberikan bukan untuk memperoleh keuntungan duniawi.
  • Dhamma harus diajarkan tanpa menyindir diri sendiri atau orang lain.
  • Berdagang senjata.
  • Berdagang makhluk hidup.
  • Berdagang daging.
  • Berdagang minuman keras atau yang bersifat meracuni.
  • Berdagang racun.
  1. Ada 5 jenis pekerjaan yang tidak benar yang tidak boleh dilakukan oleh umat awam :
  1. Ada 6 hal yang tak terlampaui :

Dewa Sakka ( raja para dewa) memberikan pertanyaan kepada Sang Buddha yang berkenaan dengan Enam hal yang tak tertandingi atau terlampaui keenam hal tersebut antara lain : Hal-hal termulia yang dilihat, hal-hal termulia yang didengar, keuntungan mulia, pengetahuan termulia, pelayanan termulia, dan perenungan termulia.

  • Memandang Tathagata atau siswa Tathagata adalah hal termulia yang dilihat.
  • Mendengarkan Dhamma dari Tathagata atau siswa Tathagata adalah hal termulia yang didengar.
  • Keyakinan pada Tathagata atau siswa Beliau adalah keuntungan yang termulia.
  • Pengetahuan akan kebajikan agung (Adhisila), pengembangan pikiran agung (adhicitta), kebijaksanaan agung (adhipanna) adalah pengetahuan termulia.
  • Melayani Tathagata atau siswa beliau adalah pelayanan termulia.
  • Perenungan tentang kemuliaan Tathagata atau siswa Beliau adalah perenungan termulia.

IV. Enam Belas Alam Brahma Berbentuk (rûpabhûmi)

Rûpabhûmi merupakan suatu alam tempat kemunculan ‘rûpâvacaravipâkacitta’ atau kesadaran akibat yang lazim berkelana dalam alam brahma berbentuk. Dengan perkataan lain, rûpabhûmi adalah suatu alam tempat kelahiran jasmaniah serta batiniah para brahma berbentuk. Yang dimaksud dengan brahma ialah makhluk hidup yang memiliki kebajikan khusus yaitu berhasil mencapai pencerapan Jhâna yang luhur. Jhâna dihasilkan dari pengembangan Samatha Kammaööhâna meditasi pemusatan batin pada satu objek demi tercapainya ketenangan.

Alam brahma terdiri atas 16 alam, yakni:

1. tiga alam bagi peraih Jhâna pertama (paöhama),

2. tiga alam bagi peraih Jhâna kedua (dutiya),

3. tiga alam bagi peraih Jhâna ketiga (tatiya),

4. dua alam bagi peraih Jhâna keempat(catuttha),

5. dan lima alam Suddhâvâsa.

Pathamajhânabhûmi, Tiga alam bagi peraih Jhâna pertama ialah:

1. Pârisajjâ: alam ke-hidupan bagi brahma pengikut, yang tidak memiliki
kekuasaan khusus,

2. Purohitâ: alam kehidupan bagi brahma penasihat, yang berkedudukan tinggi sebagai pemimpin dalam kegiatan-kegiatan,

3. Mahâbrahmâ: alam kehidupan bagi brahma yang memiliki kebajikan khusus
yang besar.

Dutiyajhânabhûmi, Tiga alam kehidupan bagi peraih Jhâna kedua atau Jhâna ketiga ialah

1. Parittâbhâ: alam kehidupan bagi brahma yang bercahaya lebih sedikit daripada brahma yang berada di atasnya,

2. Appamâóâ: alam kehidupan bagi brahma yang bercahaya cemerlang nirbatas,

3. Âbhassarâ: alam kehidupan bagi brahma yang bercahaya menyebar luas
dari tubuhnya.

Tatiyajhânabhûmi, Tiga alam bagi peraih Jhâna keempat ialah

1. Parittasubhâ: alam kehidupan bagi brahma yang bercahaya indah tapi lebih
sedikit daripada brahma yang berada di atasnya,

2. Appamâóasubhâ: alam kehidupan bagi brahma yang bercahaya indah nirbatas,

3. Subhakióhâ: alam kehi-dupan bagi brahma yang bercahaya indah di sekujur
tubuhnya.

Catutthajhânabhûmi, Dua alam bagi peraih Jhâna kelima ialah:

1. Vehapphalâ: alam kehidupan bagi brahma yang berpahala sempurna,
yang terbebas dari se-gala bahaya,

2. Asaññasatta: alam kehidupan bagi brahma yang bertumimbal lahir dalam
wujud materi berasal dari perbuatan saja(kammajarûpa). Dalam alam ini sama sekali tidak ada unsur batiniah. Kelahiran di alam brahma ini terjadi karena pengembangan perenungan yang memacak terhadap unsur batiniah yang menjijikkan sehingga tak menghasratinya (saññâvirâgabhâvanâ). Karena tidak dilengkapi dengan unsur-unsur batiniah, di alam ini sama sekali tidak ada kesempatan untuk mengembangkan kebajikan. Makhluk-makhluk yang terlahirkan secara jasmaniah hanya sekadar menghabiskan akibat perbuatan lampaunya. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan dalam alam ini.

Suddhâvâsabhûmi adalah suatu alam kehidupan bagi mereka yang telah terbebas dari nafsu birahi (kâmarâga) dan sebagainya, yaitu para Anâgâmî yang berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima. Makhluk-makhluk lain yang belum mencapai kesucian tingkat Anâgâmî, meskipun berhasil meraih pencerapan Jhâna kelima, tidak akan terlahirkan di alam ini. Di sinilah para Anâgâmî akan meraih kesucian tingkat Arahatta. Para Bodhisatta tidaklah pernah terlahirkan di alam ini sebab makhluk-makhluk yang terlahirkan di alam ini tidak akan terlahirkan kembali di
alam-alam lain yang lebih rendah. Kadangkala, ketika tidak ada Buddha
yang muncul dalam kurun waktu yang lama, alam ini kosong melompong tanpa penghuni.

Alam ini terbagi menjadi lima tingkat, yaitu:

1. Avihâ: alam kehidupan bagi brahma yang tidak meninggalkan tempat tinggalnya hingga habisnya usia,

2. Atappâ: alam kehidupan bagi brahma yang se-nantiasa berada dalam
ketenangan yang menyejukkan,

3. Sudassâ alam kehidupan bagi brahma yang tubuhnya bercahaya sangat
indah menawan hati,

4. Sudassî: alam kehidupan yang lebih sempurna dalam penglihatan daripada
alam Sudassâ,

5. Akanitthâ: alam kehidupan bagi brahma yang terlengkapi dengan harta
surgawi serta kebahagiaan yang tak ter-tandingi oleh alam mana pun. Ini merupakan alam tertinggi bagi para suciwan.

Para Anâgâmî yang berkemampuan menonjol dalam bidang keyakinan (saddhindrîya) niscaya terlahirkan kembali di alam Avihâ; semangat (viriyindrîya) di alam Atappâ; penyadaran jeli (satindrîya) di alam Sudassâ; pemusatan (samâdhindrîya) di alam Sudassî; kebijaksanaan (paññindrîya) di alam Akanitthâ.

http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/31-Alam-Kehidupan.htm diakseses tgl 26 0ktober 2010.

Penjelasan:

Anagami yang tidak mempunyai Catutthajjhanakusala (sutta) atau Palicamajjhana-kusala (Abhidhamma) tidak dapat terlahir di Alam Suddhavasa 5. Beliau yang tidak mempunyai Pancamajjhana-kusala, setelah meninggal, akan terlahir di Alam Rupa-Jhana (bukan Suddhavasa 5) dengan kekuatan “Maggasiddhi-Jhana”.

upaloka terdiri dari 16 alam dibagi sesuai dengan tingkat jhana yang dicapai yaitu :

Alam jhana pertama
1. Brahma Parisajja – Alam Pengikut Brahma
2. Brahma Purohita – Alam Para Menteri Brahma
3. Maha Brahma – Alam Maha Brahma

Alam alam ini dicapai oleh seseorang apabila ia meninggal pada saat berada dalam meditasi dan
Mencapai jhana I. Jika jhana I kuat sekali maka ia terlahir di alam Maha Brahma apabila sedang
Akan terlahir di alam Brahma Purohita dan seterusnya. Dari ketiga alam jhana I ini, Maha Brahma
Melebihi kedua alam lain dalam hal kebahagiaan, keindahan dan batas manusia.

Alam jhana kedua
4. Parittabha – Alam Brahma Cahaya Kecil
5. Appamanbha – Alam Brahma Cahaya Tanpa Batas
6. Abhassara – Alam Brahma Gemerlapan

Alam jhana ketiga
7. Parittasubha – Alam Brahma Aura Kecil
8. Appamanasubha – Alam Brahma Aura Tanpa batas
9. Subhakinha – Alam Brahma Aura Tetap

Alam jhana keempat
10. vehapphala – Alam Brahma Pahala Besar
11. Asannasatta – Alam Brahma Tanpa Pikiran
Dikatakan bahwa bila pada makhluk Asannasatta muncul pikiran maka Ia lenyap dari alam ini dan terlahir di alam lain.

Lima alam berikut disebut alam Suddhavasa atau alam kediaman suci yaitu :
12. Aviha
13. Atappa
14. Sudassa
15. Sudassi
16. Akanittha

Makhluk yang dapat terlahir di lima alam suddhavassa ini hanya para Anagami, yaitu Para Anagami yang tak melaksanakan meditasi atau yang tak meninggal pada saat berada dalam jhana I, II, III atau IV. Jika Anagami berada dalam jhana maka ia akan terlahirdi alam sesuai dengan jhana yang dicapainya. Orang biasa, sotapana maupun sakadagami yang telah mencapai jhana keempat tidak dapat terlahir kembali di salah satu alam Suddhavassa ini, kecuali di alam Vehapphala atau Asannasatta. Anagami yang mencapai jhana IV dan meninggal pada saat berada dalam jhana ke IV akan terlahir kembali di alam Vehapphala atau alam Asannasatta.

Disamping alam betuk ( Rupaloka) ada alam tanpa bentuk ( Arupaloka). Alam Arupa adalah alam tanpa jasmani, dalam Arupaloka tidak ada kelamin. Alam ini dicapai setelah seseorang sukses dengan Rupa jhana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s