Dhammacetiya Sutta (Monumen-monumen untuk Dhamma)

Posted: Maret 10, 2012 in Sutta Pitaka

Oleh:

Defik Widiana     (09.1.167)

Siti Parsiyah      (09.1.178)

===============================================================

  1. Latar Belakang

Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di negeri Sakya di suatu kota Sakya yang bernama Medalumpa. Pada waktu itu, Raja Pasenadi dari Kosala tiba di Nagaraka untuk suatu urusan. Dia menyuruh kepada Digha Karayana untuk menyiapkan kereta kerajaan karena akan pergi ke taman hiburan untuk melihat pemandangan yang menyenangkan. Raja pun berangkat dean ketika berjalan dean berkeliling di taman untuk berolahraga, raja Pasenadi melihat akar-akar pohon yang indah dan memberikan inspirasi, tenang dan tidak terganggu oleh suara, jauh dari manusia. Seketika dia teringat kepada Sang Buddha, dimana waktu mereka mengormat Sang Buddha. Sang Buddha yang mantap dan sepenuhnya tercerahkan. Kemudian raja bersama Digha Karayana dan pengawalnya meninggalkan Nagaraka menuju kota para sakya Medalumpa. Pada waktu itu, beberapa bhikkhu sedang berjalan kian kemari di udara terbuka. Kemudian raja Pasenadi mendekati mereka dan bertanya tentang kediaman Sang Buddha. Akhirnya raja pergi untuk menemui Sang Buddha.

  1. Isi Sutta

Ketika memasuki tempat kediaman Sang Buddha, dia bersujud di kaki Sang Buddha, menyembah dengan kepalanya di kaki Sang Buddha, raja menciumi seluruh permukaan kaki Sang Buddha dan membelainya dengan tangannya ketika itu Sang Buddha menanyakan kepadanya mengapa dia menunjukkan kerendahhatian yang ekstrim seperti itu dan menghormati Sang Buddha, dengan sepenuh hati raja pun memberikan puji-pujian pada kebajikan-kebajikan Sang Buddha. Kemudian raja menjawab bahwa ia menyimpulkan sesuai Dhamma tentang Sang Buddha yang telah sepenuhnya tercerahkan, Dhamma dinyatakan dengan baik oleh Sang Buddha, Sangha siswa Sang Buddha berlatih dengan cara yang baik. Katanya saya juga melihat para bhikkhu menjalani kehidupan suci yang sempurna dan murni sepanjang kehidupan dan nafas berlangsung, sungguh saya tidak melihat kehidupan suci lain dimana pun juga yang sempurna dan semurni ini. Raja melihat kehidupan raja, para bangsawan, perumah tangga, yang saling bertengkar tetapi disini saya melihat para bhikkhu hidup harmonis, saling menghargai, tanpa perselisihan, saling membaur, memandang satu sama lain dengan mata yang ramah. Raja tidak melihat perkumpulan lain dimana pun juga yang harmonis. Raja telah berjalan dan berkeliling dari taman ke taman dan dari kebun ke kebun. Dan saya melihat para petapa dan brahmana yang kurus, kacau, tak sedap dipandang, mereka telah melakukan perbuatan jahat dan menyembunyikannya. Raja telah melihat ketika bangsawan-bangsawan terpelajar di sini yang pandai, berpengetahuan tentang doktrin-doktrin orang lain berkelana untuk menghancurkan pandangan-pandangan orang lain dengan kecerdikan mereka yang tajam dan menemui Sang Buddha untuk menanyakan pertanyaan. Jika ditanya seperti ini, dia akan menjawab seperti ini, sehingga kita akan membuktikan bahwa doktrinnya salah dengan cara ini. Mereka pergi kepada Sang Buddha, dan Sang Buddha memberikan instruksi, mendesak, menggugah dan mendorong mereka ceramah tentang Dhamma. Setelah diberikan seperti itu, mereka tidak jadi menanyakan. Bagaimana mereka dapat membuktikan bahwa doktrin Beliau salah, mereka malah menjadi siswa-siswa beliau. Demikian juga raja juga melihat di sini brahmana-brahmana terpelajar, para perumah tangga terpelajar, petapa-petapa terpelajar. Bahkan Isidatta dan Purana dua inspektur raja lebih menghormati Sang Buddha disbanding kepada raja.

Raja berkata bahwa Sang Buddha adalah seorang bangsawan saya seorang bangsawan, Sang Buddha adalah seorang Kosala dan saya seorang Kosala, Sang Buddha berusia delapan puluh tahun dan saya delapan puluh tahun. Karena itu saya menganggap pantas untuk melakukan penghormatan sedemikian tinggi kepada Sang Buddha dan menunjukkan persahabatan semacam itu. Setelah melakukan hal ini raja bangkit dari duduknya, dan setelah memberi hormat, dengan menjaga agar beliau tetap di sisi kanannya, dia pergi. Kemudian setelah raja pergi, Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu bahwa sebelum raja bangkit dan pergi raja menyatakan monumen-monumen untuk Dhamma, para bhikkhu kuasailah monumen-monumen untuk Dhamma, ingatlah monumen-monumen untuk Dhamma, karena monumen-monumen untuk Dhamma ini bermanfaat.

  1. Kesimpulan

Setelah mendengar perkataan Sang Buddha, para bhikkhu merasa puas dan bergembira di dalam kata-kata Sang Buddha.

Pesan Moral

Sebagai murid sang Buddha kita hendaknya mempelajari tentang monumen-monumen Dhamma agar mendapatkan manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Referensi:

–          ———. 2000. Panduan Tipitaka. Klaten:Vihara Bodhivamsa.

–          ———. 2008. Majjhima Nikaya. Klaten : Wisma Sambodhi. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s