CAUSALITY, THE THREE CHARACTERISTIC OF EXISTENCE AND KARMA AND REBIRTH

Posted: Maret 10, 2012 in Filsafat Buddha

By: Dwi Astuti                                                          

   Pendahuluan

Buddha adalah penemu dhamma yang dikenal dalam Buddhisme, dalam Buddhisme mengandung banyak ajaran diantaranya: kausalitas (paticcasamupada), tiga sifat keberadaan (thilakkhana), hukum perbuatan (kamma), dan kelahiran kembali (punabhava). Ajaran-ajaran ini merupakan pokok-pokok ajaran Buddhisme yang dikenal dan dipelajari oleh umat Buddha. Meskipun ajaran-ajaran tersebut dipelajari dan terjadi pada kehidupan kita, tapi beberapa umat Buddha belum mengerti dengan benar. Oleh karena itu penulis akan membahas tentang kausalitas, tiga sifat keberadaan, hukum kamma, dan kelahiran kembali serta hubungan satu dengan yang lain.

Pembahasan

Kausalitas

Pengertian kausal yaitu menyebabkan suatu kejadian, saling menyebabkan hubungan yang bersebab akibat. Sedangkan pengertian kausalitas adalah kausal dan sebab akibat (KKBI, 2005: 517), jadi hukum kausalitas merupakan hukum sebab-musabab yang saling bergantungan. Kausalitas yang diajarkan oleh Buddha ada pada paticcasamupada, segala sesuatu yang terjadi akan mengalami sebab dan berakibat.

Rumusan :

“dengan adanya ini maka adalah itu”

“dengan munculnya ini maka munculah itu”

“dengan tidak adanya ini maka tidak adalah itu”

“dengan lenyapnya ini maka lenyaplah itu”

 Tiga Sifat Keberadaan (thilakkhana)

Pada pembahasan hukum kausalita menerangkan muncul dan lenyapnya segala sesuatu, sebagai akibat langsung dari kausalita ini adalah segala sesuatu di dunia bersifat anicca (ketidakkekalan), dukkha (tidak memuaskan), dan anatta (tanpa inti) atau yang biasa dikenal thilakkhana yang berasal ti artinya tiga, lakkhana artinya corak , jadi tilakkhana merupakan tiga corak yaitu corak yang universal dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

  1. Anicca (ketidakkekalan)

Anicca dalam Buddhisme adalah ketidakkekalan yang sudah dibuktikan sendiri (empirik). Segala sesuatu mengalami timbul dan hancur /lenyap. Proses perubahan ada tiga tahap yaitu muncul, berlangsung dan padam. Hal ini merupakan perubahan yang empirik atau penilaian langsung berdasarkan penyelidikan analisis. Contoh, kecantikan, ketampanan, kekayaan, sifat seseorang.

  1. Dukkha (tidak memuaskan)

Karena segala sesuatu tidak kekal maka menimbulkan ketidakpuasan (dukkha). Penderitaan sebenarnya disebabkan oleh adanya kemelekatan terhadap apa yang sebenarnya tidak memuaskan, sulit dipertahankan dan tidak menyenangkan. Contoh, mendapatkan nilai jelek, kekenyangan, kelaparan, sakit fisik atau batin.

  1. Anatta (tanpa inti)

Kaum upanisad beranggapan adanya diri yang kekal. Sang Buddha mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang kekal dan tidak berubah yang disebut dengan “diri”. Kepercayaan terhadap segala sesuatu yang kekal akan mengakibatkan seseorang menderita. Paham tentang diri yang kekal akan mengarahkan seseorang pada sifat keakuan. Sifat keakuan itulah yang menimbulkan nafsu keinginan yang merupakan sebab dari penderitaan. Tanpa inti yang kekal berarti bertentangan dengan ajaran kelahiran kembali, adanya tanggung jawab moral. contoh, badan jasmani.

  Kamma dan Kelahiran Kembali

Kamma adalah perbuatan baik ataupun buruk yang dilakukan melalui ucapan, badan jasmani atau pikiran yang disertai kehendak (sankhara) yang akan menimbulkan akibat. Dalam penentuan manusia terdapat motif yang disadari yaitu keserakahan atau keterikatan (lobha), kebencian atau ketidaksukaan (dosa), dan kebodohan batin (moha), motif ini umumnya perilaku yang jahat, perilaku yang baik adalah alobha, adosa dan amoha.

Punabhava atau kelahiran kembali terjadi karena salah satu sebab dari 4 sebab yaitu: habisnya kekuatan janaka kamma, habisnya masa kehidupan, habisnya kekuatan janaka kamma dan habisnya masa kehidupan, dan sebab lain. Kesadaran di momen terakhir  (cuti citta) milik kehidupan sebelumnya dengan cepat berlanjut dengan padamnya kesadaran itu. Karena telah terkondisikan maka timbul momen pertama dari kesadaran pada kelahiran  yang disebut kelahiran kembali dari kesadaran. Kesadaran sebelumya mengkondisikan kesadaran selanjutnya, kesadaran lahir dan mati memberi tempat pada kesadaran baru, sehingga aliran kesadaran tanpa henti akan terus berlanjut sampai kehidupan berhenti.

Keterkaiatan:

Segala sesuatu yang muncul, berkembang dan padam adalah mengalami proses, penulis akan memulai dari hasil suatu proses bagaimana manusia mengalami prose kelahiran. Kelahiran kembali ada karena adanya perbuatan baik atupun buruk yang dilakukan yang akan berakibat sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya dan kehendak untuk hidup (bhavatanha) kembali. , kelahiran suatu makhluk mengalami suatu proses yang panjang dapat dijelaskan dengan kausalitas (paticcasamupada) proses kelahiran sulit untuk diketahui sebab yang mengawalinya, dalam paticcasamupada sebab terdekat yang membuat muncul proses lain karena avijja yang sebagi akar loba, dosa dan moha sehingga memunculkan sebab lain untuk terus menjadi tumbuh, timbul, berlangsung dan padam. Dengan adanya pergantian suatu proses maka hal ini dapat diketahui bahwa segala sesuatu yang berkondisi mengalami 3 sifat keberadaan anicca, dukkha, anatta, kelahiran juga dicengkaram oleh thilakkhana. Contoh lain yang dicengkram oleh thilakkana yang manusia tidak bisa menolak adalah usia tua dicengkram oleh anicca, sakit dicengkram oleh dukkha dan kematian dicengkram oleh anatta

Kesimpulan

Segala sesuatu yang muncul, berkembang dan padam pasti melalui proses yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi, proses-proses itu dimunculkan oleh proses lain sehingga memunculkan proses yang baru, proses yang baru akan menimbulkan proses selanjutnya. Proses-proses itu dipengaruhi oleh 3 sifat keberadaan yang menjadi sebab adanya kamma dan kelahiran kembali. Buddhisme memandang bahwa kelahiran terjadi berulang-ulang sebab dari kamma dan proses yang panjang. Oleh karena itu kita sebagai umat Buddha seharusnya tidak menganggap bahwa segala sesuatu ada sebab dan akibat dari apa yang kita lakukan dan tidak mengalami proses yang terus berlanjut hingga terhentinya penderitaan dan mencapai nibbana.

 

Referensi:

  • Kalupahana, David J. 1986. Filsafat Buddha. Jakarta: Penerbit Erlangga.
  • Tim Penyusun.2005.Kamus Besar Bahasa Indonesia.Jakarta: Balai Pustaka
  • Piyadassi, Mahathera.2003.Spektrum Ajaran Buddha.Jakarta: yayasan Pendidikan Buddhis Tri Ratna.
  • Panjika.2004. Kamus Umum Buddha Dhamma. Jakarta: Tri Sattva Buddhist Center.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s