BRAHMAJALA SUTTA (Khotbah mengenai Jaring Kebijakasanaan Sempurna)

Posted: Maret 10, 2012 in Sutta Pitaka

Oleh:

Indra Saputra (09.1.175)                                               

Sudiyati (09.1.179)                                                          

A.    Latar Belakang

Pada suatu ketika Sang Bhagava sedang berjalan di jalan antara kota Rajagaha dan Nalanda, diikuti oleh para Bhikkhu. Pada saat itu pula Suppiya paribbājaka bersama muridnya seorang pemuda bernama Brahmadatta sedang dalam perjalanan antara Rajagaha dan Nalanda. Ketika itu Suppiya paribbajaka mengucapkan bermacam-macam kata yang merendahkan Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Tetapi sebaliknya muridnya Brahmadatta memuji Sang Buddha, Dhamma dan Sangha. Demikianlah antara guru dan murid masing-masing memiliki pandangan yang berbeda, sambil berjalan mengikuti rombongan Sang Bhagava. Sutta ini dibabarkan oleh Sang Bhagava kepada para Bhikkhu di Ambhalatthika, Rajagaha yang berkenaan dengan perbincangan antara Suppiya Paribbajjaka (menjelek-jelekkan Sang Tiratana) dengan muridnya Brahmadatta (memuji-muji Sang Tiratana). Setelah mengetahui perbincangan antara Suppiya dengan muridnya maka Sang Bhagava menjelaskan kepada para Bhikkhu yang mendengar perbincangan dari Brahmana, sehingga penulis akan membahas tentang Brahmajala Sutta yang berkenaan dengan Brahmadatta.

B.     Isi Sutta

Ada dua pokok besar yang diuraikan dalam Brahmajala sutta, yaitu tentang sila (peraturan perilaku yang benar) dan ditthi (pandangan atau teori ajaran). Sila yang diuraikan adalah Cula sila, Majjhima sila dan Maha Sila. Cula sila berkenaan dengan peraturan-peraturan yang terdapat dalam dasa sila Buddhis. Majjhima sila berkenaan dengan rincian dari pelaksanaan sila keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dari dasa sila. Buddhis maupun tentang pemeliharaan tumbuh-tumbuhan agar tetap lestari, dan cara berbicara yang pantas. Maha Sila adalah sila yang perlu dilaksanakan oleh setiap umat Buddha.

  1.   Tentang sila (peraturan perilaku atau moral yang benar)
    1. a.      Cula Sila

Cula sila berkenaan dengan peraturan-peraturan yang terdapat dalam dasa sila Buddhis.

  1. b.      Majjihma sila

Majjhima sila berkenaan dengan rincian dari pelaksanaan sila keenam, ketujuh, kedelapan, kesembilan dari dasa sila, seperti: Tidak menimbun makanan, Tidak melihat pertunjukan, Tidak menggunakan tempat tidur  yang besar dan mewah, dll.

  1. c.       Maha sila

Maha Sila adalah sila yang perlu dilaksanakan oleh setiap umat Buddha.

Tidak mencari penghasilan dengan ketrampilan yang salah seperti: Meramal nasib, Membicarakan tanda-tanda akan alamat baik atau buruk dengan benda-benda, dll.

  1. 2.      Ditthi (pandangan atau teori ajaran)

Sang Buddha menjelaskan tentang 62 pandangan salah yang banyak dianut oleh orang di dunia, yaitu :

  1. a.      18 Pandangan masa lampau
  • Empat pandangan kepercayaan atta dan loka adalah kekekalan (sassata ditthi).
    • Sebagian petapa dan brahmana yang mampu menginggat kehidupan lampaunya pada 1,2,3,4,5,10,20,30,40,50,100,1000,beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau berpendapat bahwa “atta adalah kekal dan loka tidak membentuk atta yang baru, itu tetap bagakan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah, mati, dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetep kekal selamanya.”
    • Sebagian petapa dan brahmana yang mampu menginggat kehidupan yang lampau pada 1,2,3,4,5,10 kali masa bumi berevolusi berpendapat bahwa “atta adalah kekal dan loka tidak membentuk atta yang baru, itu tetap bagakan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah, mati, dan terlahir kembali dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetep kekal selamanya.”
    • Sebagian petapa dan brahmana yang mampu menginggat kehidupan lampau pada 10,20,30,40 kali masa bumi berevolusi berpendapat bahwa “atta adalah kekal dan loka tidak membentuk atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah, mati, dan terlahir kembali dari satu kehidupan kekehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetep kekal selamanya.”
    • Beberapa petapa dan brahmana yang berlandaskan pada pandangannya pada pikiran dan logika saja pada kesangupannya saja berpendapat bahwa “atta adalah kekal dan loka tidak membentuk atta yang baru, itu tetap bagaikan puncak gunung karang, atau bagaikan tiang yang kokoh kuat, dan walaupun makhluk-makhluk berpindah, mati, dan terlahir kembali dari satu kehidupan kekehidupan yang lain, namun demikian mereka itu tetep kekal selamanya.”
  • Empat jenis kepercayaan dualisme pada kekekalan dan ketidak-kekelan (ekacca sassata ditthi).
  • Pada suatu waktu ketika berakhirnya suatu masa yang lama sekali bumi mulai berevolusi, ketika hal itu terjadi alam brahmana terlihat sepi dan kosong. Ada makhluk dari alam dewa abhassara yang masa hidupnya atau pahala kamma baiknya habis. Ia meninggal dari alam dewa abhassara dan terlahir di alam brahma. Dia hidup ditunjang dengan kekuatan pikiran yang diliputi keingginan, berkeingginan agar ada makhluk lain yang datang dan hidup bersamanya, pada saat itu ada makhluk yang masa hidup dan pahala baiknya habis dan terlahir di alam brahmana. Makhluk dari alam brahmana yang pertama berpendapat ”saya brahmana, maha brahmana,  maha agung, maha tau, penuasa, tuan dari semua, pencipta, penentu tempat bagi semua makhluk, semua makhluk adalah ciptaanku”. Setelah ada beberapa makhluk yang meninggal, dari alam brahmana dan terlahir di alam manusia, hidup menjadi petapa hingga mampu menginggat kehidupannya yang lampau dia berkata “dialah brahmana, maha brahmana,  maha agung, maha tau, penuasa, tuan dari semua, pencipta, penentu tempat bagi semua makhluk, semua makhluk adalah ciptaannya”. Dia tetap kekal dan keadaannya tidak berubah, ia akan tetap kekal selamanya, tetapi kami yang diciptakannya dan datang kesini adalah tidak kekal, berubah dan memiliki usia yang terbatas.
  • Dewa-dewa yang tidak ternoda oleh kesenangan adalah tetap kekal abadi selamanya. Tetapi bagi yang terjatuh dari alam tersebut, tidak dapat menggendalikan diri karena terikat pada kesenangan, kita terlahir disini adalah tidak kekal. Berubah dan usia kita pun terbatas.
  • Para dewa yang pikirannya mereka tidak ternoda dan tidak diliputi perasaan iri hati pada yang lain, maka mereka tidak emburu pada dewa yang lain, dengan demikian mereka tidak meninggal atau jatuh dari alam tersebut, mereka tetap kekal abadi, tidak berubah sampai selama-lamanya. Tetapi yang memiliki pikiran yang ternoda selalu diliputi perasaan iri dan cemburu kepada orang lain, maka tubuh ini menjadi lemah, mati dan terlahir kembali sebagai makhluk  yang tidak kekal, berubah, dan memiliki usia yang terbatas.
  • Yang disebut mata, telinga, hidung, lidah, dan jasmani adalah atta yang bersifat tidak kekal, tidak tetap, tidak abadi, selalu berubah. Tetapi apa yang dinamakan batin, pikiran, atau kesadaran  adalah atta yang bersifat kekal, tetap, abadi dan tidak akan berubah.
  • Empat pandangan mengenai apakah dunia itu terbatas atau tak terbatas (antanantikavada).
  • Para petapa dan brahmana yang membayangkan dunia ini terbatas, berkata: “Dunia ini terbatas, jalan yang dibuat menggelilingi dan kami berada dalam dunia yang nampak terbatas”.
  • Para petapa dan brahmana yang membayangkan dunia ini tidak terbatas, berkata “para petapa yang menyatakan dunia ini terbatas sehingga jalan dapat mengelilinginya adalah salah”.
  • Ada petapa dan brahmana yang membayangkan dunia ini ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas maka mereka berpendapat dunia ini ada yang terbatas dan ada yang tidak terbatas.
  • Para petapa dan brahmana menyatakan pendapat mereka yang didasarkan pada argumentasi mereka dan hanya dilandaskan pada kesanggupannya saja membayangkan dan berpendapat dunia ini adalah bukan terbatas ataupun bukan tidak terbatas.
  • Empat jenis pengelakan yang tidak jelas (Amaravikkepikavada).
  • Ada petapa dan brahmana karena rasa takut dan tidak senang pada kesalahan yang disebabkan menyatakan pendapat, maka ia akan menyatakan sebuah pertanyaan yang ditanyakan padanya, maka ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan.
  • Ada petapa dan brahmana karena rasa takut dan tidak senang pada kesalahan yang disebabkan menyatakan pendapat yang terikat pada keadaan batin, maka ia akan menyatakan sebuah pertanyaan yang ditanyakan padanya, maka ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan.
  • Ada petapa dan brahmana yang pandai, cerdik, berpengalaman dalam berdebat, pandai mencari kesalahan, pandai mengelak, yang menurut pendapatnya dapat menolak spekulasi orang lain dengan kebijaksanaan mereka, maka ia akan menyatakan sebuah pertanyaan yang ditanyakan padanya, maka ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan.
  • Ada petapa dan brahmana yang bodoh dan dungu. Dan karena kebodohan atau kedunguannya , maka ia akan menyatakan sebuah pertanyaan yang ditanyakan padanya, maka ia akan menjawab berbelit-belit dan membingungkan.

 

  • Dua doktrin non sebab akibat (adhiccasamuppanikavada)
  • Ada petapa dan brahmana menyatakan segala sesuatu terjadi secara kebetulan dan berpendapat bahwa “atta dan loka terjadai tanpa adanya sebab karena, dulu ada sekarang ada”.
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan yang didasarkan pada pikiran dan logika menyatakan pendapat dan argumentasinya dan didasari pada kesanggupannya berpendapat, “atta dan loka terjadi tanpa adanya sebab.
  • Enambelas jenis kepercayaan pada adanya sanna setelah kematian (uddhamaghatanika sanni vada)
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan mempunyai bentuk
  •  Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan berbentuk dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan bukan berbentuk atau pun bukan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan terbatas dan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan memiliki semacam bentuk kesadaran
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan memiliki macam-macam bentuk kesadaran
  •  Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan memiliki kesadaran terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan memiliki kesadaran tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan selalu bahagia
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan selalu menderita
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan bahagia dan menderita
  • Setelah mati, atta tetap ada, tidak berubah dan sadar, dan bukan bahagia ataupun bukan menderita
  1. 44 Pandangan yang berkaitan dengan masa yang akan datang
  • Delapan jenis kepercayaan pada tidak adanya sanna setelah kematian (uddahamaghatanika asanni vada).
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan berbentuk dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan bukan berbentuk ataupun bukan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan terbatas dan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah dan tidak memiliki kesadaran, dan bukan terbatas dan bukan tidak terbatas

 

  • Delapan jenis kepercayaan pada adanya bukan sanna pun bukan non sanna setelah kematian (uddhamaghatanika nevasanni nasanni vada)
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  berbentuk dan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  bukan berbentuk ataupun bukan tidak berbentuk
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan tidad terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  terbatas dan tidak terbatas
  • Setelah mati, atta tidak berubah  dan bukan memiliki kesadaran atau pun bukan tanpa memiliki  kesadaran, dan  bukan terbatas atau pun bukan tidak terbatas
  • Tujuh jenis kepercayaan pada anihilasi (uccheda vada).
  • Ada beberapa petapa dan brahmanna berpendapat dan berpandangan, “atta mempunyai bentuk (rupa) yang terdiri dari 4 zat (catummahabhutarupa) dan mrupakan keturunan dari ayah dan ibu, bila meninggal dunia, tubuh menjadi hancur dan lenyap  dan tidak ada lagi kehidupan kembali.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpendapat dan berpandangan, “atta tidak musnah sekaligus karena ada atta lain lagi yang luhur berbentuk, termasuk alat kesenangan indera (kamavacaro), hidup dengan makanan material (kavalinkaraharabhakkho), yang kamu tidak tahu atau tidak lihat tetapi saya telah mengetahui atau telah melihatnya. Dengan demikian setelah meninggal dunia makhluk  itu binasa, lenyap dan musnah.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan dan berpendapat,” atta itu tidak musnah sekaligus karena ada atta lain lagi yang luhur, berbentuk, di bentuk oleh pikiran (manomaya), semua bagian sempurna, indranya pun lengkap, setelah meninggal atta musnah dan lenyap. Dengan demikian setelah meninggal makhluk itu binasa, lenyap musnah.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan dan berpendapat,” atta tidak musnah sekaligus, karena ada atta lain yang melampaui adanya bentuk (rupasanna) yang  telah melenyapkan rasa tidak senang (pathigasanna), tidak memperhatikan penyerapan-penyerapan lain (nannattasanna), menyadari ruang tanpa batas (akasanancayatana), setelah meninggal atta musnah dan lenyap. Dengan demikian setelah meninggal makhluk itu binasa, lenyap musnah”.
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan dan berpendapat, “atta tidak musnah sekaligus, karena ada atta yang lain lagi yang melampaui alam (akasanancayatana), menyadari kesadaran kesadaran tanpa batas, mencapai alam kesadaran tanpa batas (vinnanancayatana), setelah meninggal atta musnah dan lenyap. Dengan demikian setelah meninggal makhluk itu binasa, lenyap musnah.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan dan berpendapat,” atta tdak musnah sekaligus, karena ada atta lain yang melampaui alam (vinnanancayatana), menyadari kekosongan, mencapai alam kekosongan (akincannayatana), setelah meninggal atta musnah dan lenyap. Dengan demikian setelah meninggal makhluk itu binasa, lenyap musnah.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan dan berpendapat, “atta tidak musnah sekaligus karena ada atta lain yang melampaui alam akincannayatana, mencapai alam bukan pencerapan atau pun bukan tidak pencerapan (n’evasanna nasannayatana), setelah meninggal atta musnah dan lenyap. Dengan demikian setelah meninggal makhluk itu binasa, lenyap musnah.”
  • Lima jenis nibbana duniawi sebagai yang bisa diwujudkan dalam kehidupan ini juga (ditthadhamma nibbana vada)
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan, “bila atta diliputi oleh kenikmatan, kepuasan lima indera, maka atta telah mencapai nibbana dalam kehidupaan sekarang ini. Dengan pendapat yang mereka nyatakan mengenai makhluk hidup yang dapat mencapai kebahagiaan mutlak dalam kehidupan sekarang ini.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan, “bila mana atta terbebas dari kesenangan inderia maupun hal-hal buruk (akusala dhamma) mencapai dan tetap dalam jhana pertama, keadaan yang menggiurkan, disertai perhatian dan penyidikan (savittaka savicara), maka dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Dendan demikian mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini.”
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpendapat, “ bilamana atta terbebas dari perhatian dan penyelidikan, mencapai dan berada dalam jhana II, keadaan  pikiran terpusat dan seimbang , penuh kegiuran dan bahagia (cetaso ekadi-bhava, vupasamo, piti, sukha) maka  dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Dendan demikian mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini”.
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpendapat, “ bila mana atta terbebas dari keingginan dan kegiuran, pikiran terpusat, seimbang, penuh perhatian, berpengertian jelas (sato ca sampajano), dan tubuh mengalami kebahagiaan yang dikatakan oleh para ariya sebagai keseimbangan yang disertai perhatian dan penggertaian jelas , mencapai dan berada di jhana III, maka  dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Dengan demikian mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini”.
  • Ada beberapa petapa dan brahmana berpandangan , “ bilamana atta terbebas dari rasa bahagia dan derita (sukkhassa ca pahana dukkhassa ca pahana) setelah lebih dahulu melenyapkan kesenangan dan kesedihan (somanassa domanassa) mencapai dan berada dalam jhana IV, disertai pikiran yang seimbang dan terpusat, tanpa adanya kebahagiaan dan penderitaan (adukkha asukkham), maka  dengan ini atta mencapai kebahagiaan mutlak nibbana dalam kehidupan sekarang ini. Dengan demikian mereka berpendapat bahwa kebahagiaan mutlak dapat dicapai dalam kehidupan sekarang ini”.

Pandangan salah tersebut bermula sebagai akibat  dari perasaan yang muncul sebagai akibat dari kontak yang berulang-ulang melalui 6 landasan indera, menimbulkan

  • Pandangan dalam dirinya menimbulkan napsu keinginan.
  • Nafsu keinginan menimbulkan kemelekataan.
  • Kemelekatan menimbulkan kehidupaan.
  • Proses sebab-akibat kamma dalam kehidupan menimbulkan tuminbal lahir.
  • Dan tumimbal lahir menimbulkan usia tua, kematian, ratap tangis, kesedihan, penderitaan, rasa tertekan dan keputusasaan.

Setelah Beliau bersabda demikian, lalu bhikkhu Ananda berkata kepada Sang Bhagava : “Bhante, sangat mengagumkan! Sangat mentakjubkan! Apakah nama uraian Dhamma kebenaran ini?” Ananda, kau dapat menamakan uraian ini sebagai Atthajala, Dhammajala, Brahmajala, Ditthijala atau Sangamavijayo. Demikianlah khotbah Sang Bhagava, dan para bhikkhu dengan hati yang gembira memuji uraian Sang Bhagava.

Pesan Moral

Setelah mempelajari dan memahami tentang pandangan salah, akan mengetahui mana yang salah dan yang buruk. Pandangan yang salah harus dihindari dan pandangan benar dikembangkan untuk dapat mencapai kebahagiaan dan kebebasan. Pengendalian diri penting dalam berpandangan benar. Pengendalian diri akan muncul jika sering melakukan meditasi.

Referensi:

Walshe, Maurice. 2009. Dīgha Nikāya. Medan: Dhamma Citta Press.

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/brahmajala-sutta/ (diakses pada hari Selasa, 1 november 2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s