ARCA DAN MUDRA CANDI BOROBUDUR

Posted: Maret 10, 2012 in Perkembangan Agama Buddha

By:

Defik Widiana

Siti Parsiyah

Sudiyati

Latar Belakang

Candi Borobudur merupakan salah satu candi agama Buddha yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Candi Borobudur adalah candi yang kompleks karena dibangun oleh nenek moyang pada zaman dahulu. Bangunannya juga sangat kuat, mempunyai tingkatan-tingkatan seperti Kama Dhatu, Rupa Dhatu, dan Arupa Dhatu. Selain itu dengan struktur bagian yang lengkap yang terdiri dari bagian-bagiannya. Candi Borobudur tidak hanya diperindah dengan relief-relief cerita dan ukiran-ukiran hias, tetapi juga dapat dibanggakan karena arca-arca yang sangat tinggi mutu seninya dan sangat banyak pula jumlahnya. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang arca dan mudra yang ada di candi Borobudur.

 

Pembahasan

  1. Arca Candi Borobudur

Arca adalah patung yang terutama dibuat dari batu yang dipahat menyerupai bentuk orang atau binatang (KKBI, 2000: 64). Arca-arca yang ada menggambarkan Dhyani Buddha. Terdapat di bagian Rupadhatu dan  Arupadhatu, masing-masing duduk bersila di atas bantalan teratai dan selalu menghadap keluar. Arca-arca Buddha di rupadhatu ditempatkan dalam relung-relung yang tersusun berjajar pada sisi luar pagar langkan. Sesuai dengan kenyataan bahwa tingkatan-tingkatan bengunannya semakin tinggi semakin kecil ukurannya, maka pada langkan tingkat pertama terdapat 104 buah relung, pada tingkat kedua juga terdapat 104 buah relung, pada tingkat ketiga 88, pada tingkat keempat 72 dan pada tingkat kelima hanya 64. Dengan demikian jumlah relung ada 432 buah dan sebanyak itu pulalah jumlah patungnya semua.

Arca-arca di Arupadhatu ditempatkan dalam stupa-stupa yang dindingnya berlubang-lubang dan yang berderet dalam 3 susun lingkaran sepusat. Pada batu bundar yang pertama terdapat 32 buah stupa, pada yang kedua 24 stupa dan pada yang ketiga ada 16 stupa. Dengan demikian maka jumlah patungnya ada 72 buah, yang kesemuanya terkurung rapat-rapat tetapi masih juga nampak samar-samar. Jumlah arca Buddha seluruhnya di Candi Borobudur mula-mula 504 buah, tetapi kini lebih dari 300 buah telah cacat (kebanyakan tanpa kepala) sedangkan 43 buah telah hilang.

  1. Mudra

Mudra adalah sikap jari-jari tangan dalam bersamadhi (KKBI, 2000: 758). Sekilas arca-arca Buddha itu nampak sama semua, tetapi sesungguhnya ada juga perbedaan-perbedaannya. Perbedaan yang sangat jelas ialah sikap tangannya yang disebut mudra dan yang merupakan ciri khas untuk setiap arca. Penelitian lebih lanjut terhadap sikap tangan itu mengungkapkan bahwa arca-arca pada langkah tingkat satu sampai dengan tingkat empat berbeda-beda mudranya, dengan catatan bahwa mudra itu sama untuk tingkat-tingkat pada satu sisi. Demikianlah maka arca-arca yang menghadap ke Timur mempunyai mudra yang sama, dan begitu pula halnya dengan arca-arca yang menghadap ke Selatan, ke Barat dan ke Utara. Lain halnya dengan arca-arca yang terdapat pada langkan paling atas atau tingkat kelima. Semuanya memiliki mudra yang sama, ke arah mana saja arca itu menghadap. Demikian pula dengan arca-arca yang terkurung dalam stupa di bagian Arupadhatu. Sikap kedua belah tangan Buddha atau Mudra dalam bahasa Sanskerta, memiliki perlambang yang khas. Mudra dari arca tersebut diantaranya:

  1. a.      Dhyanamudra

Menggambarkan sikap samadhi, mengisyaratkan ketika Sang Buddha bersamadhi di bawah pohon Bodhi. Kedua tangan diletakkan di pangkuan, yang kanan di atas yang kiri dengan telapaknya menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu. Sikap tangan ini merupakan tanda khusus bagi Dhyani Buddha Amithaba yang menjadi penguasa daerah barat.

  1. b.      Dharmacakramudra

Melambangkan gerak pemutar roda dharma yaitu menggambarkan waktu Sang Buddha pertama kali khotbah. Kedua tangan diangkat sampai di depan dada, yang kiri di bawah yang kanan. Tangan kiri menghadap ke atas dan yang kanan dengan jari manisnya menyentuh tanah sedangkan tangan kanan menghadap ke bawah dan menyentuh jari tengah tanpa kiri dengan jari manisnya. Mudra ini menjadi ciri khas bagi Dhyani Buddha Vairocana yang daerah kekuasaannya terletak dipusat (zenith). Semua arca ini terletak dalam semua dalam stupa berlubang pada teras melingkar pada tingkat Arupadhatu.

  1. c.       Abhayamudra

Arca yang menghadap ke utara terletak pada pagar langkan 1 sampai 4. Dengan sikap tangan sedang menenangkan dan menyatakan “Jangan Khawatir”. Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedangkan tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut kaki sebelah kanan dengan telapak tangan menghadap ke depan. Sikap tangan ini menjadi tanda khusus bagi dhyani Buddha Amoghasiddhi.

  1. d.      Bhumisparcamudra

Menggambarkan sikap tangan sedang menyentuh tanah. Tangan kiri terbuka dan menengadah di pangkuan. sedangkan telapak kanan menempel ditelungkupkan pada lutut kaki kanan ynag besila dengan jari-jarinya menunjuk ke bawah. Sikap tangan ini melambangkan saat Sang Buddha memanggil Dewi Bhumi sebagai saksi ketika ia menangkis semua serangan iblis mara yang berusaha menggagalkan usaha Sang Buddha dalam menempuh jalan kebenaran. Mudra ini adalah khas bagi Dhyani Buddha Aksobhya yang bersemayam disisi timur terletak pada relung-relung pagar langkan tingkat ke 4.

  1. e.       Vitarkamudra

Dhyani Buddha Vairocana digambarkan juga dengan sikap tangan disebut Vitarkamudra atau sikap tangan “ Sedang menguraikan sesuatu” yang mengisyaratkan sikap berbincang-bincang atau memberi pelajaran. Tangan kiri terbuka diatas pangkuan dan tangan kanan sedikit terangkat diatas lutut kanan dengan telapaknya menghadap ke depan. Sikap ini hampir sama dengan sikap Abhayamudra akan tetapi jari telunjuk tangan kanan menyentuh ibu jari. Arca dalam mudra ini diletakkan pada relung-relung pagar langkan tingkat ke-5.

  1. f.       Varamudra

Melambangkan pemberian awal, kedermawanan atau mengabulkan suatu permohonan. Sepintas sikap tangan ini Nampak sama dengan Bhumisparcamudra, akan tetapi telapak tangan kanan menghadap ke atas diletakkan pada paha kaki kanan, sedangkan jari-jarinya terletak pada lutut kaki kanan. Mudra ini dapat dikenali Dhyani Buddha Ratnasambhava yang bertahta disisi kaki kanan pada relung tingkat ke 4.

 

Kesimpulan

Arca adalah patung yang terutama dibuat dari batu yang dipahat menyerupai bentuk orang atau binatang (KKBI, 2000: 64). Arca-arca yang ada menggambarkan Dhyani Buddha. Jumlah arca Buddha seluruhnya di Candi Borobudur mula-mula 504 buah, tetapi kini lebih dari 300 buah telah cacat (kebanyakan tanpa kepala) sedangkan 43 buah telah hilang.

Mudra adalah sikap jari-jari tangan dalam bersamadhi. Jumlah mudra ada 6 yaitu: Dhyanamudra, Dharmacakramudra, Abhayamudra, Bhumisparcamudra, Vitarkamudra, Varamudra. Dalam mudra, hal yang paling menonjol perbedaannya adalah sikap tangannya.

 

 

Referensi

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s