Ketulusan

Posted: Maret 8, 2012 in cerpenQ

Cerpen

By: Dwi Astuti

Kebahagian dan Ketulusan hatimu

“aku dulu rin yang di depan!”seru Arun

“em… iya lah”

Saat detik-detik Vaisak ke 2555 tahun 2011  penuh berkah, keluarga Karuna dan Ririn datang ke Vihara dan siangnya mereka mengunjungi panti asuhan Triratna.

“rin aku seneng banget dapat berbagi dengan saudara-saudara kita”girang arun

“iya run… tak ada yang lebih membuat hati bahagia saat berbagi dengan orang lain”. Ririn tersenyum menatap arun.

“anak-anak ayo pulang sudah sore!!!”seru mama arun

“iya mam”jawab arun yang melangkah bersama ririn ke mobil.

***

Setiap malam minggu di Vihara Pundarika kegiatan muda-mudi, body berjalan menghampiri arun yang sedang duduk melamun di depan Vihara.

“hai?ko ngalamun, lagi mikirin apa hayo?”Tanya body yang membuat arun tersentak

“awww… bodyyy!!!kaget tahu

duh jangan ngambek donk!tambah cantik tahu”ledek body sambil tersenyum

“hehehe iiih, kamu memang tak bisa membuatku marah padamu”

“em … ririn mana? ko nggak bareng? biasanya lengket kaya perangko?” tanya body

“owh ririn, dia, di belakang lagi bantu-bantu di dapur”

“owh ya udah aku ke belakang dulu ya?!” body meninggalkan arun sendiri

“ya”jawab arun kecewa

Ririn anak yang sangat rajin dan pendiam tapi penuh perhatian pada orang-orang di sekelilingnya dan teman-temanya.

“sudah nak rin! sana istirahat dari tadi bantuin ibu terus!”pintah ibu ii. Ibu ii yang sering bantu-bantu di Vihara jika ada keperluan.

“iya bu, nanggung hampir selesai”

“biar aku bantu bu!”tiba-tiba body datang

“telat body”seru ibu ii

“hehehe telat ya? jadi malu”jawab body. Ririn hanya tersenyum, terlihat lesung pipit dipipinya yang manis di pandang.

“ya udah bu sudah selesai, saya pulang dulu sudah malam, arun sudah menunggu di depan “pamit ririn

“ya nak, makasih hati-hati di jalan ya”

“iya bu sama-sama”jawab ririn

“rin aku yang anter ya! sudah malam nih? nggak baik cewek pulang nggak ditemenin” saran body

“boleh, kita pulang bareng arun”jawab ririn

Malam itu body sangat senang bisa mengantarkan ririn sampai rumah, arun hanya cemberut sapanjanga perjalanan pulang.

***

“run kamu kenapa? Tadi pagi nggak nungguin aku berangkat sekolah?”tanya ririn heran

nggak papa, pengin aja”jawab arun ketus, meninggalkan ririn sendiri di depan pintu kelas. Ririn pulang sendiri tanpa jawaban dari arun yang akhir-akhir ini menjauh darinya.

Pagi-pagi ririn menghampiri rumah arun untuk berangkat bareng seperti biasa.

“tok… tok… tok… pagi Namo Buddhaya”seru ririn yang mengetok pintu rumah arun

“Namo Buddhaya, ririn, arun sudah berangkat bareng Om tadi”mama arun meberitahu

owh ya sudah tante, saya berangkat dulu, Namo Buddhaya”

“Namo Buddhaya, hati-hati nak rin”pintah mama arun

Ririn pergi meninggalkan rumah arun penuh heran karena arun nggak pernah suka kalau berangkat naik mobil, dia lebih sering berangkat bareng ririn naik motor atau angkutan umum. Pagi itu motor ririn sedang di bengkel, dia menunggu di halte yang hanya ditemani hujan.

“rin bareng yu!”tiba-tiba berhenti motor di depan ririn yang ternyata body

“tapi aku basah, nanti kamu repot”ririn menolak

“ayo nanti kamu telat”desak body. Ririn dan body berangkat bersama, saat di sekolah ririn melihat dan pergi begitu saja.

“makasih ya body, aku masuk dulu ya!”

“ya rin, aku seneng ko berangkat bareng denganmu”senyum body

***

Perayaan Magga Puja tahun ini sangat sedih buat ririn, arun semakin menjauh darinya dan komunikasipun sudah terputus.

“arun kamu kenapa manjauh dariku, aku minta maaf jika aku salah denganmu, tapi ucapkan padaku apa salahku?”desak ririn

“aku nggak tahu rin, aku benci kamu, kenapa? Orang yang aku sayang dan kasihi memilihmu, aku sakit rin”mata arun berkaca yang menunduk menutupi kesedihannya.

“maksudmu?” Ririn bagaikan disambar petir mendengar ucapan arun, “maksudmu body run?, run aku dan body nggak ada apa-apa, aku tahu kamu menyayangi dia run, dalam benakku tak sedikitpun berniat run”jelas ririn

Arun menangis meninggalkan ririn di bawah pohon body di depan Vihara yang ditemeni angin malam, ternyata body mendengar dilema persahabatan yang sudah dibina hampir lima tahun bersama.

“rin? Tak kau ijinkan aku menyayangimu?”tanya body menatap ririn dalam. Ririn hanya menggeleng kepala meninggalkan body dalam kebisuan.

Sudah tiga bulan arun tak menyapa dan menghindar dari ririn sejak perayaan Magga Puja. Saat Vaisak ke 2556 tahun ini, ririn tak datang ke Vihara. Arun menunggu ririn di depan Vihara menggenggam bungkusan besar berbalut kertas pink, tapi ririn tak kunjung datang, Perayaan Vaisak tahun kemarin mereka berjanji akan bertukar hadiah, hingga acara selesai ririn tak datang juga arun tetap menunggu, body terus memperhatikan arun dari Dharmasala.

“nak ririn tidak datang di hari penuh kebajikan ini”tepuk ibu ii pada bahu arun

“kenapa bu?”arun cemas

“ibu angkat ririn sakit keras sudah satu bulan, dia harus merawat, sebenarnya ririn hanyalah anak angkat, ririn diadopsi dari panti asuhan. Setiap hari dan saat dia selalu berharap dan mencari dimana orang tuanya sekarang, dalam benaknya selalu bertanya “apa salahku?” mereka membuat hidupuku dalam kebimbangan, tekanan dan angan yang sangat jauh dari mimpiku untuk bersama. Ririn hanyalah berharap kasih sayang yang nyata dan membalas budi pada orang yang berharga dihidupnya”cerita ibu ii pada arun

Arun meneteskan air mata mendengar cerita ibu ii, ririn nggak pernah bercerita padanya dia selalu tersenyum dan bersemangat di depan semua orang atau pun arun. Arun merasa bersalah dan ego yang tinggi, arun pergi menarik tangan body, body hanya diam mengikiti langkah arun yang ternyata menuju rumah ririn.

“tok… tok… tok… Namo Buddhaya ririn?”teriak arun

“Namo Buddhaya, arun maaf” deg deg arun langsung memeluk ririn sambil menangis tanpa mendengar penjelasan kenapa dia nggak datang ke Vihara dan tidak menepati janjinya “maafkan aku rin”

“arun ada apa?”ririn heran

“aku sudah dengar semua dari ibi ii” ririn hanya tersenyum dan memeluk arun erat, betapa berharga kalyanamittanya. Arun menarik tangan body dan ririn

“body dia pantas untuk kau jaga! Rin kau kalyanamittaku aku akan selalu membantumu”senyum arun, body dan ririn bahagia

Berkah Vaisak tahun ini sangat bermakna bagi arun, dia mengerti arti pengorbanan dan ketulusan baik materi dan apapun. “ririn hidupmu adalah saat ini, jangan kau hidup bersama bayangan, kau akan bahagia tanpa mereka, karena kebahagian itu di kasihmu”batin arun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s