bangun w tepat janji peduli penentuan perasaan cinta tanpa batas obat penenang sebab akibat obat terbaik kenali kebaikan keyakinan lumayan sih menjaga berlalu doa humor love jalan terbaik keabadian cinta

Gambar  —  Posted: Desember 1, 2013 in Gambar Kata Hati

Review 12

Posted: Mei 22, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By       : Dwi Astuti

APLIKASI KONSEP TANPA PENGORBANAN

DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

          Tradisi masyarakat memang tidak bisa ditinggalkan karena sudah dilakukan turun temurun oleh keluarga yang diwarisi dari nenek moyang, misal tradisi yang masih kental di masyarakat Tradisi Sadranan adalah sebuah tradisi adat di Jawa yang berupa ritual mengirim atau mendoakan ahli waris beserta leluhurnya yang sudah meninggal dunia. Tradisi Sadranan diadakan tiap bulan Sya’ban tahun Hijriyah. Tradisi Sadranan berupa Sedekahan atau Kenduri, bisa perorangan atau kelompok dan dilakukan di rumah dengan membagikan sedekah atau Kenduri yang berupa nasi beserta sayur mayur dan lauk pauknya kepada tetangga atau orang disekitarnya. Lauk pauknya biasanya dengan hewan yang disembeleh bisa ayam, kambing, sapi dsb.  Tradisi lain yang masih kental tradisi kejawen masih ada selametan upacara kematian yang dibuat selametan dan diadakan kenduren dengan masyarakat sekita, selamtean diadakan saat 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari setelah kematian, ibu-ibu memasak yang akan dikendurikan salah satunya ada ayam atau hewan yang dibunuh dan dagingnya digunakan untuk slametan atau kenduri. Tradisi yang dijalankan dalam masyarakat banyak sekali, lalu sebagai umat Buddha yang ditekankan dalam Pancasila Buddhis pada sila pertama “Pānātipātā veramaṇi sikkhāpadaṁ samādiyāmi” yang berarti berlatih diri menghindari pembunuhan, bagaimana Agama Buddha dapat memberi aplikasi tentang upacara pengorbanan maupun pembunuhan hewan yang dilakukan pada tradisi masyarakat.

Tradisi masyarakat dilakukan sebagai kebiasaan yang dilakukan turun temurun dari keluarga, persembahan daging digunakan dengan tujuan penghormatan pada leluhur. Agama Buddha dalam Pancasila Buddhis berlatih untuk tidak melakukan pembunuhan karena berlandasan belas kasih atau karuna dimana sikap ini tidak tahan melihat penderitaan makhluk lain merasa ngerumangsa atau merasakan jika posisi diri sendiri yang dijadikan pengorbanan atau disembeleh pasti merasakan kesakitan dan kesedihan meskipun itu hewan. Rasa belas kasih ini yang mendorong untuk tidak melaukan pembunuhan atau mengakhiri kehidupan makhluk lain. Tindakan umat Buddha yang sudah mengenal Dhamma dan memahami maka dalam tradisi-tradisi yang masih menggunakan pengorbanan dikikis atau dapat diganti dengan bentuk lain misal dengan cara membeli daging yang sudah mati dipasar, dengan telur atau sayuran sebagai pengganti lauk tetapi tidak membunuh.

Konsep Agama Buddha yang tidak ada upacara pengorbanan dapat diaplikasikan dengan adanya pelepasan burung atau hewan-hewan atau fan sheng yang dilepaskan ke alam bebas untuk hidup sesuai dengan dunianya, cara ini digunakan untuk menyelamatkan hewan-hewan untuk tidak dibunuh atau dijadikan makanan untuk dijual. Hewan apapaun dapat dilepas ke alam bebas, misal melepas ikan dan kura-kura ke laut, melepas merpati, melepas cacing dsb. Di sekitar vihara terkadang ada tempat yang disediakan untuk makan burung yang digantung pada tiang dan bisa meletakan makanan untuk burung. Saat upacara kematian tidak harus membunuh hewan yang digunakan sebagai simbol kendaraan untuk orang yang sudah meninggal tetapi dapat menggunakan dengan Patidana atau dengan menuangkan air dan merenung jasa kebaikan dari orang yang telah meninggal. Cara ini mudah dilakukan oleh siapapun dengan tujuan kelangsungan hidup dan supaya hewan-hewan dapat berkembang biak dengan alami maka keberadaan hewan-hewan akan terlindungi tanpa ulah manusia yang mengincar hewan untuk kepentingan materi maka keberadaan hewan akan lestari.

 

Referensi:

Surya, Ronald Satya.2009.5 Aturan Moral Buddhis. Yogyakarta:Insight Vidyasena Production.

 

Review 11

Posted: Mei 22, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By: Dwi Astuti

NIVĀTO CA  (Rendah Hati)

            Rendah hati atau sikap tidak sombong atau tidak menyombongkan diri. Kesombongan dan keangkuhan dapat menyebabkan tidak disenangi orang lain, sikap sombong sukar dinasehati, sukar diajak bicara atau rembugan (kerja sama) karena mementingkan sikap sombong dan keakuan. sikap kesombongan dan keangkuhan akan menimbulkan emosional dengan marah, benci dan kecewa karena menggangap yang benar dan hanya mementingkan kepentingan dan kemauannya. Kesombongan dan keangkuhan menimbulkan sikap yang tidak sebenarnya dapat memutarbalikkan fakta dan kata-kata sendiri yang hanya membenarkan sikap dan prinsipnya, tidak mau kalah dengan orang lain. Perasaan senang jika orang lain kalah karena pendapatnya yang diterima dan sebaliknya akan timbul kekecewaan jika prinsipnya ditolak orang lain, orang yang bersikap hal tersebut sukar dinasihati dan diperingatkan.

Orang yang kaya, memiliki jabatan dan sukses yang memiliki sikap rendah hati merupakan Berkah Utama, dalam Maha Mangala Sutta sikap rendah hati merupakan sikap yang tidak menyombongkan diri, mudah untuk dinasihati dan kerja sama, mau mendengar kata-kata orang lain tidak bersikap kaku dan ketika kritik dan saran muncul tidak bersikap emosional dengan senyum menerima setiap tanggapan dari orang lain. Sikap rendah hati dan menyadari kelemahan-kelemahan dengan menyadarinya yang membuat terus belajar dari kelemahan serta kesalahan.

Ada cerita rakyat mengenai seekor gagak yang ingin mengetahui cara membuat sarang. Gagak tidak mempunyai sarang, gagak bertanya kepada seekor burung yang pintar membuat sarang. Burung tersebut memberitahunya “pertama ambil ranting”, gagak menjawab “ya, saya sudah tahu”, kemudian burung tersebut berkata “kamu letakkan ranting-ranting tersebut”, gagak membalas “ya, saya tahu itu juga”, tanpa kehilangan kesabaran burung itu melanjutkan “kamu ambil ranting yang lain”, gagak menjawab “saya tahu itu juga”. Burung tersebut kehilangan kesabarannya akhirnya pergi. Akhirnya gagak tidak pernah dapat membuat sarang. Sikap burung gagak menggambarkan sikap tidak rendah hati untuk belajar. Sikap yang rendah hati tidak mengagungkan, membanggakan diri sendiri karena penuh pengendalian diri. Orang yang memiliki sikap rendah hati mau mendengarkan orang lain, memperhatikan orang lain yang berbicara dan mau belajar dari orang lain yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Cerita burung gagak yang tidak mau mendengarkan dan memperhatikan dari burung lain menyebabkan dirinya rugi karena tidak dapat mengetahui cara membuat sarang yang bermanfaat dan memberi pengetahuan yang baru.

Memiliki sikap rendah hati selalu terkendali dan terkontrol dari dirinya, dengan mengembangkan sikap kebijaksanaan dan spiritual kesombongan akan terkikis, sikap Bhikkhu Sariputta merupakan contoh rendah hati. “Suatu ketika Bhikkhu Sariputta sedang berjalan, bagian dari lipatan jubahnya menyentuh tanah, kemudian samanera yang berusia tujuh tahu melihat dan memberitahu Bhikkhu Sariputta, dengan sikap rendah hati beliau memperbaiki jubahnya dan memberi hormat pada samanera kecil” (Sarada, 23), contoh tersebut menggambarkan sikap rendah hati berkembang seiring dengan kemajuan dalam spiritual.

Umat Buddha atau non buddhis dengan melatih rendah hati akan terkendali dan mau menghargai orang lain, mudah untuk dinasehati dan bekerjasama tidak emosional, menghadapi tanpa marah dengan berpikiran positif dan mengambil sikap yang bermanfaat dan tidak merugikan orang lain, sikap rendah hati mengikis kesombongan dan keangkuhan mau menerima kelebihan dan kekurangan orang lain ataupun diri sendiri.

 

Referensi:

-Abhayanando, Bhikkhu.2011.Berkah yang Sesungguhnya.Tangerang:Vihara Dharma Ratana.

-Sarada, Weragoda.____.Maha Manggala Sutta (Berkah Utama).Jakarta:Vihara Dhammacakka    Jaya.

 

Review 10

Posted: April 17, 2012 in Teknik Penulisan Ilmiah

By: Dwi Astuti

MERAIH HIDUP SUKSES DENGAN SILA

Sukses sering menjadi identik dengan bahagia. Orang yang bahagia dipersepsikan orang yang sukses. Bahagia dan sukses menjadi obsesi dan keinginan setiap orang. Sukses berarti pula terpenuhinya kebutuhan primer misal, makanan, pakaian, tempat tinggal dan obat-obatan. Seiring dengan kemampuan dan keinginan manusia, kebutuhan itu kemudian meningkat seperti, pendidikan, hiburan, kendaraan dan sebagainya. Meraih sukses memerlukan pengetahuan dan keterampilan. Pengetahuan yang luas tentang strategi berdagang atau wirausaha dengan mengetahui peluang, sasaran serta keterampilan menemukan ide-ide baru dengan kreatif untuk menarik masyarakat. Meraih hidup sukses atau bahagia harus memiliki mental yang kuat untuk  bekerja. Manusia mempunyai kemampuan dan kesempatan yang amat luas untuk meningkatkan kualitas mentalnya dalam mencapai tujuan.

Meraih hidup sukses dengan cara yang benar dan dengan sikap, lingkah laku atau moral yang baik. Sila atau moralitas dapat memepertimbangkan baik dan buruk. Kebahagian diraih dari dalam diri sendiri Tidak ada tempat untuk menggantungkan ataupun berserah diri. Keberhasilan atau kemunduran dalam kehidupan adalah tanggung jawab masing-masing. Sikap mental yang harus dikembangkan untuk meraih hidup sukses:

  • Chanda (kegembiraan dalam pekerjaan). Bangkitkan kegembiraan dan kepuasan dalam melakukan pekerjaan. Kegembiraan dalam bekerja akan membangun etos kerja yang sehat. Adalah keliru bila berpikir bahwa hanya akan gembira dan puas bila hasil akhir telah tercapai, sebab bila hasil akhirnya tidak sesuai harapan, hanya kekecewaan yang menjadi buah dari seluruh proses pekerjaan. Bekerja dengan gembira, menyenangi dengan pekerjaan yang dimiliki akan menghasilkan pekerjaan yang memuaskan.
  • Viriya (semangat dan ketekunan dalam setiap pekerjaan). Ulet dan gigih, tidak cepat putus asa meski mengalami kegagalan dalam usaha selalu mencoba terus. Jangan mudah berhenti bila hasilnya belum tercapai. Ketekunan, semangat dan gigih dalam berusaha, keterampilan dan pengetahuan. Banyak orang berbakat yang kandas karena tidak disertai ketekunan dan kegigihan. Pintar saja tidak cukup jika ketekunan, kerajinan untuk bekerja tidak dikembangkan.
  • Citta (mengerjakan pekerjaan dengan pikiran penuh). Memberikan perhatian penuh pada setiap pekerjaan akan membuat pekerjaan tersebut selesai dengan baik. Perhatian penuh atau kewaspadaan akan menjauhkan diri dari kelalaian dan akan menimbulkan banyak peluang keberhasilan. Citta juga akan menjaga diri untuk tidak berpaling pada hal-hal yang tidak ada relevansinya atau hubungan dengan pekerjaan. Bekerja dengan pikiran terkonsentrasi tidak memikirkan hal yang lain saat bekerja agar tidak mengganggu pekerjaan, pikiran yang waspada akan mengingat setiap pekerjaan yang akan dikerjakan dan ridak lupa sehingga dapat menemukan ide baru.
  • Vimamsa (menganalisa hal-hal yang sedang dikerjakan). Ide baru yang tidak tampak secara kasat mata akan ditemukan bila menggunakan penyelidikan atau analisa dalam setiap pekerjaan. Makin luas penyelidikan maka makin banyak pula ide-ide atau gagasan baru yang akan muncul, yang sebenarnya berada tepat pada pekerjaan yang sedang hadapi. Pekerjaan yang telah selesai dikerjakan di analisi, jika ada yang kurang dapat diperbaiki.

Empat syarat memperoleh kekayaan:

  • Uttānasampadā: Kerja keras, pantang menyerah dan putus asa, jangan malas, jangan menggantungkan diri kepada siapapun juga. Dalam Dhammapada 112, Sang Buddha menyatakan:

“Walaupun seseorang hidup seratus tahun tetapi malas

dan tidak bersemangat, maka sesungguhnya, lebih baik

  • orang yang hidup hanya sehari tetapi berjuang dengan

penuh semangat.”

 

Jika tidak  mau bekerja keras dan mudah patah semangat atau putus asa apalagi hanya menggantungkan hidup pada orang lain  maka tidak akan mendapatkan apa yang diinginkan.

  • Ārakkhāsampadā : Jaga dengan baik apa yang telah dicapai. Jangan sia-siakan dengan merasa puas apa yang telah dimilki dan menjaganya dengan baik.
  • Kalyānamittata : Mempunyai teman yang mendorong kemajuan. Mendorong kearah kebaikan dan tindakan yang benar dan yang dapat menjaga rahasia, mengingatkan jika melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan dhamma atau tindakan yang merugikan orang lain. Mendukung hal-hal yang baik, memberi semangat meski dalam masalah.
  • Samajivitā : Menggunakan yang telah dicapai dengan perencanaan yang baik. Usaha yang telah diperoleh telah terencana dengan baik untuk rencana mendatang.

Dengan empat cara ini, seseorang dapat mengatasi kekurangan dan kemiskinan dan tidak hanya memiliki sesuatu sehingga tidak kekurangan tetapi bisa menggunakan dan menikmati hasil yang dicapainya dengan baik., dalam Dhammapada 24 disebutkan:

“Orang yang penuh semangat, selalu sadar, bersih dalam

perbuatan, memiliki pengendalian diri, hidup sesuai dengan

Dhamma dan selalu waspada, maka kebahagiaannya akan

bertambah.”

Pesan dalam syair Dhammapada dengan penuh semangat dalam setiap tindakan atau usaha yang disertai kesadaran untuk konsentrasi dalam mengontrol pikiran untuk bertindak atau perbuatan yang buruk muncul akan terkendali dengan pikiran yang sadar dan sebagai umat Buddha tindakan yang baik yang dikembangkan serta selalu waspada dalam setiap hal yang dilakukan akan memunculkan rasa kebahagian. Kesuksesan yang diraih dalam hidup bukan hanya materi tapi rasa damai dalam diri dengan usaha yang benar.

Referensi:

  • Mahatera, Sri Pannavaro dan Dhammananda, K. Sri.____.Seri Dhamma Praktis Tanggung Jawab Bersama. Yogyakarta:Insight Vidyasena Production.
  • Tim Penyusun.2005. Dhammapada. Jakarta:Dewi Kayana Abadi.