SKENARIO SIKAP ANJALI DAN NAMASKARA

Posted: Maret 29, 2012 in Strategi Pembelajaran

Latar Belakang

Pendidikan agama Buddha sangat penting dan perlu ditanamkan sejak dini, tentang tata cara puja bakti ataupun ritual praktek agama Buddha karena di Indonesia mengakui enam agama yang memiliki tata cara ritual masing-masing, agar anak dapat membaur dengan teman yang beda agama dan tidak timbul keminderan serta jika ditanya teman lain dapat menjawab. Anak dapat memahami ajaran Buddha perlu bimbingan dan pembinaan baik di sekolah oleh guru agama Buddha dan di vihara oleh pembimbing sekolah minggu, selain anak dapat memahami mereka juga dapat menambah keyakinannya serta dapat dipraktekan dalam keseharian anak-anak misal, puja bakti, berlatih meditasi, berdana, memimpin puja bakti, latihan pembacaan dhammapada, menyanyi dan menari lagu buddhis, membuat puisi buddhis, menggambar atau melukis, membaca buku-buku riwayat Buddha Gotama, yang dibantu mengarahkan oleh guru, orang tua maupun pembina sekolah minggu. Selain arahan juga perlunya media yang membantu anak dalam memahami serta mempermudah anak mencerap ajaran Buddha misal, film kartun yang bernuansa buddhis, CD lagu-lagu buddhis, gambar-gambar buddhis, ini dapat membuat anak senang untuk mau belajar dan merasa penasaran sehingga timbul rasa ingin tahu mereka, belajar bukan hanya membaca buku tapi guru perlu kreatifitas dalam penyampaiannya, belajar juga bermain untuk memotivasi sebelum anak siap menerima pembelajaran.

Dari  penjelasan di atas belajar bukan hanya mengenal teori tetapi yang terpenting adalah praktek dan pengalaman dari anak itu sendiri dan guru sebagai pendorong dari proses belajar anak selain dari orang tua untuk menambah keyakinan anak dan sikap atau tingkah laku anak berubah ke arah positif dari pengalaman belajar disekolah maupun di lingkungan misal, menhormati orang lain dan menghargai orang lain. Jadi penulis akan membahas tentang Skenario Sikap Anjali dan Namaskara dengan metode TANDUR, penulis membahas ini karena penghormatan atau puja sebagai dasar dari pengenalan anak bagaimana mereka dapat menghormati orang lain dan dapat menghargai orang lain, mereka yang patut dihormati orang tua, guru, para Bodhisatva dan para Buddha, para anggota Sangha dan semua makhluk.

Pembahasan

a.      Tumbuhkan

Saya mengajar siswa dan siswi Sekolah Dasar Viriya Pundarika kelas dua akan belajar tentang sikap anjali dan namaskara. Anak-anak kelas dua lumayan aktif dan rasa ingin tahunya sangat besar. Sebelum mulai pembelajaran dibukan dengan parita namakarapatha.

 

Bu guru: “anak-anak kenapa kita harus menghormat Buddha, siapa yang tahu?”.

Bodhi: “saya tahu bu karena Buddha gurunya agama Buddha”.

Mitta: “Buddha juga pahlawan, suka menolong dan cinta semua makhluk”.

Karuna: “Buddha juga pintar bu, aku ingin pintar seperti Buddha”.

Bu guru: “bodhi betul sekali kenapa kita harus menghormat Buddha, karena Buddha adalah guru yang telah mengajarkan dhamma atau ajaran kepada kita semua, jadi kita harus menghormat Buddha, benar mitta Buddha juga sebagai pahlawan karena Buddha suka menolong semua makhluk contoh:Buddha merwat bhikkhu yang sakit parah karena jijih teman-temannya menjauhinya tapi Buddha dengan cinta kasih mau menolong bhikkhu itu, Buddha juga pintar, beliau pandai memanah, berkuda, dan rajin belajar”. Siapa yang ingin pintar seperti Buddha?. Anak-anak: “saya bu, saya bu”.

Bu guru: “iya pintar sekali semua ingin seperti Buddha, jika ingin seperti Buddha harus rajin belajar dan jangan lupa puja bakti, berlatih meditasi setiap hari!, “iya bu” jawab anak-anak.

Lobhi: “bu? Teman lobhi pernah bilang ke lobhi, kenapa agama Buddha menyembah patung, menyembahkan dosa bu?”.

Bu guru: “rupang Buddha yang setiap hari kita hormati itu bukan sebagi benda yang disembah-sembah tetapi sebagi seorang guru yang telah memberikan ajaran kepada kita, jadi kita berterima kasih kepada Buddha dengan cara menghormati beliau dan mempraktekan ajaran buddha, misal lobhi tidak berbohong  kapada mama dan papa, menyayangi hewan, rajin puja bakti, berdana atau menolong pada orang lain dan rupa Buddha sebagai contoh teladan untuk kita semua. Bagaimana caranya kita menghormati Buddha?”, Bodhi: “berbuat baik bu”, Mitta: “membersihkan altar dan vihara bu”, Lobhi: “puja bakti pagi dan sore bu”.

b.      Alami

Bu guru: “iya anak-anak jawaban kalian semua benar, ibu akan menunjukan contoh salah  gambar cara kita menghormati Buddha dan nanti anak-anak mempraktekan seperti pada gambar!”.

 

 

 

 

Bu guru: “nah anak-anak ini gambar yang tadi ibu bilang, sekarang anak-anak semua berbaris yang rapi menghadap altar, kita praktekan bersama-sama:

  1. Duduk bersimpuh, untuk anak laki-laki kaki diangkat atau menjinjit sebagai tumpuan bantat, dan anak perempuan kaki tidak usah menjinjit serta kaki sejajar agar tidak sakit dan bisa tahan lama bersimpuh.

 

 

 

 

  1. Kedua tangan menyatu dan taruh di depan dada, posisi seperti kucup bunga teratai yang masih menguncup, lihat seperti contoh di gambar.
  2. Lalu bungkukan badan dan kepala ke lantai, sikap 5 sudut dahi menyentuh lantai tangan di samping kanan dan kiri kepala kita, siku menyentuh lantai, pantat jangan sampai terangkat ke atas tetapi tetap menempel pada bantat.
  3. Angkat tubuh kita lalu tangan di depan dada lagi, sikap simpuh lalu.
  4. Sujud dapat dilakukan berkali-kali dan yang biasa kita lakukan biasanya 3 kali, kaki bisa dikesampingkan pantat kita dibagian kanan ataupun kiri dan bisa bersikap sila atau seperti kaki Buddha saat meditasi.

Bu guru: “tadi salah satu contoh kita menghormat Buddha, misal: kita tidak berada di dalam vihara kita juga bisa menghormat dengan tangan di depan dada dan menundukan kepala, jika bertemu para bhikkhu kita posisi jari tangan diujung hidung”.

Sacca: “bu kenapa para bhikkhu juga harus dihormati seperti Buddha?”.

Bu guru: “para bhikkhu kita hormati karena para bhikkhu yang mengajarkan dhamma kepada kita setelah Buddha meninggal sehingga ajaran dari Buddha masih ada sampai sekarang dan para bhikkhu juga melatih perbuatan yang baik jadi kita pantas menghormati mereka”.

c.       Namai

Bu guru: “selain Buddha, para bhikkhu yang patut dihormati orang tua, guru,orang yang lebih tua juga harus kita hormati”.

Mitta: “bu orang tua dan orang yang lebih tua apa juga sama caranya menghormat dengan yang tadi kita praktekan”.

Bu guru: “iya sama kita menghormat karena Buddha tidak pernah membeda-bedakan baik orang kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan semuanya sama, dari praktek yang kita lakukan tadi kita mempraktekan apa namnya, coba lobhi apa namanya?”.

Lobhi: “sikap menghormat pada Buddha, para bhikkhu dan orang yang lebih tua bu”.

Bu guru: “iya betul yang dijawab lobhi, coba bodhi sikap bagaiman yang kita lakukan tadi”.

Bodhi: “tangan dirangkapkan di depan dada dan menundukan kepala, bersimpuh dan bersujud”.

Bu guru: “iya betul sekali bodhi, sikap itu namanya apa?”. Sacca: “beranjali dan namaskara bu”.

Bu guru: “nah betul sekali sacca, sikap menghormat pada Buddha, para bhikkhu dan orang yang lebih tua dengan tangan dirangkapkan di depan dada serta  menundukan kepala itu dinamai beranjali dan sikap simpuh dan bersujud menyentuh 5 sudut namanya namaskara”.

d.      Demonstrasikan

Bu guru: “setelah kita memperaktekan penghormatan dengan sikap anjali dan namaskara sama-sama pertama:

  • Berlutut dengan kedua belah telapak kaki tegak lurus dan kedua ibu jari kaki ditekuk. Kedua belah telapak tangan dirangkapkan di dada (bersikap anjali), bagi seorang wanita kedua belah telapak kaki harus lurus kebelakang dan pada waktu kepala akan menyentuh lantai siku lenggan kiri dan kanan diletakkan kedua paha (betis) serta telapak tangan terletak dimuka lutut.
  • Kepala hendak diturunkan atau ditundukkan untuk menyentuh lantai terlebih dahulu telapak tangan di naikkan, ke atas dahi (posisi telapak tangan berada di depan dahi dan ditempelkan di dahi.
  • Kemudian kepala dan kedua tangan bersama turun.
  • Setelah tangan menyentuh lantai, sikap keduanya diletakan lurus dimuka dan kedua siku menyentuh lantai.
  • Kepala merunduk turun, sehingga dahi menyentuh lantai.
  • Setelah beberapa saat kepala diangkat kembali dan kedua tangan dirangkapkan kembali di dahi.
  • Lalu telapak tangan diturunkan kembali di depan dada seperti posisi semula.
  • Kemudian dilanjutkan untuk kedua dan ketiga kalinya.
  • Perlu pula diperhatikan bahwa sewaktu kepala dan kedua tangan hendak diturunkan menyentuh lantai, terlebih dahulu mengucapkan “Namo Buddhaya” (namaskara pertama), “Namo Dhammaya” (namaskara kedua) dan “Namo Sanghaya” (namaskara yang ketiga), hendaknya dalam melakukan namaskara dilakukan dengan ketulusan dan pengertian yang benar.

e.       Ulangi

Bu guru: “ibu simpan dulu contoh gambar anjali dan namaskara, siapa yang mau mencoba mempraktekan kembali di depan?. Lobhi: “lobhi mau bu?”.

Bu guru: “ ya lobhi maju ke depan!”, lalu lobhi mempraktekan di depan, “benar sekali lobhi, sekarang ulangi semua langkah-langkahnya secara bersama-sama!”.

f.       Rayakan

Bu guru: “benar sekali anak-anak, tepuk tangan untuk kita semua sambil menyanyikan lagu

Dimana Buddha di kesadaran

Dimana Dhamma di kebenaran

Dimana Sangha di kesucian

Kita berlindung dalam Triratna

Bu guru: “anak-anak kita telah belajar praktek penghormatan dengan sikap anjali dan namaskara, yang setiap kita puja bakti selalu dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Buddha, Bodhisatva, para Bhikkhu, guru, maupun orang yang lebih tua. sekian pelajaran pada hari ini. Namo Buddhaya, kita tutup dengan parita namakarapatha

    Kesimpulan

Hal-hal dasar dalam agama Buddha perlu disampaikan sejak usia dini, orang tua, pembina sekolah minggu dan pendidik guru agama sebagai fasilitas anak untuk mengarahkan. Dari contoh skenario yang penulis paparkan, seorang pendidik lebih kreatif dan menumbuhkan rasa ingin tahu dari anak sehingga anak aktif bertanya, pendidik juga sabar membahas dengan pelan sehingga anak mengerti apa yang disampaikan dan dapat dipraktekan pada kehidupan sehari-hari.

 

Referensi:

Joky.2009.Video CD Media Pembelajaran Pendidikan Agama Buddha. Jakarta: Joky Production.

Tim Penyusun.2005.Paritta Suci.Jakarta:Sangha Teravada Indonesia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s